Rancangan Khotbah Yesaya 62:1-5
... kalau dulu Allah telah menolong, sekarang pun Allah akan menolong...
Apakah ada di
antara kita yang tidak pernah meragukan janji Allah sepanjang hidupnya?
Saya kira,
keragu-raguan terhadap janji Allah memang tidak dapat dihindari dalam hidup
ini, ya. Manusia umumnya mendasarkan iman percayanya pada sesuatu yang nyata : yang
dapat dilihat mata dan dapat diraba oleh tangan. Apalagi kalau bicara sama
orang Nias. Na lὄ I’ila hὄrὄ ba na lὄ
ibabaya danga, ba huohuo manὄ da’ὄ. Sejak awal sampai saat ini, kita
manusia cenderung menuntut bukti. Kalau bukti tidak ada, maka sulit bagi kita
untuk percaya. Abraham yang kita kenal sebagai Bapa Orang Percaya pun
pernah mengalami keraguan terhadap janji Allah.
Di satu sisi,
kritis terhadap janji-janji yang diberikan kepada kita memang sangat diperlukan.
Saat ini ada banyak sekali janji-janji yang hanya manis di mulut. Banyak
politikus yang berjanji untuk membangun kota, tapi sayang itu hanya janji.
Banyak orang yang berjanji sehidup semati, tapi sayang itu hanya janji. Banyak
orang yang berjanji akan bayar utang tepat waktu, tapi itu hanya janji. Manis
di mulut saja, tapi dalam prakteknya tidak. Di satu sisi, kita juga perlu
kritis terhadap janji-janji yang diberikan kepada kita.
Tapi di sisi
lain, keraguan terhadap janji manusia tidak boleh menjadi dasar bahwa kita pun
perlu meragukan janji Allah. Dalam Bilangan 23:19 tertulis : Allah bukanlah
manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan
Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? Manusia mungkin dapat mengingkari janji yang
sudah disampaikannya, tapi Tuhan tidak akan demikian. Dalam Alkitab kita
menemukan bagaimana Allah memelihara perjanjianNya dengan umatNya dan
menepatiNya pada waktu yang Ia tentukan. Hadirnya Yesus Kristus di dalam
sejarah manusia juga telah menjadi satu tanda besar bahwa janji Allah itu
sungguh-sungguh ada dan nyata. Oleh karenanya, sekalipun mungkin meragu, tapi
tidak baik bagi umat kalau menolak percaya pada janji Tuhan. Sebab percayalah,
cepat atau lambat janji Tuhan akan ditepati.
Ini jugalah
seruan Yesaya kepada bangsa Israel pada saat itu. Saat itu bangsa Israel sudah
pulang dari pembuangan di Babel. Setelah berpuluh-puluh tahun mereka di Babel,
Allah pun menepati janjiNya untuk membawa pulang bangsa ini. Tapi ternyata persoalan
masih belum selesai. Ketika bangsa itu kembali, Yerusalem telah menjadi
reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya terbakar (Neh. 2:17). Puing-puing dan
reruntuhan ada di mana-mana. Kota itu telah menjadi rata dengan tanah.
Dan tidak
hanya itu saja. Kehidupan mereka pasca pembuangan
juga memprihatinkan. Kalau kita membaca kitab-kitab yang ditulis setelah
pembuangan, kemiskinan dan kemelaratan menjadi salah satu hal yang dihadapi
oleh bangsa Israel. Yerusalem seperti tidak layak untuk ditempati kembali.
Dalam situasi
yang hancur berantakan inilah, Tuhan kembali menyapa mereka. Dalam teks yang
kita baca tadi Allah memberikan kembali janji pemulihan kepada bangsa Israel.
Allah berjanji untuk membangun kembali negeri mereka. Ayat 2-5 merupakan
gambaran dari pemulihan orang Israel itu sendiri. Negeri mereka yang tadinya
penuh dengan ketandusan, Tuhan janji akan diubahkan menjadi negeri yang penuh
dengan kemuliaan. Mereka yang tadinya hidup dalam kegelapan dan kekelaman,
dijanjikan Tuhan akan hidup dalam sukacita. Mereka yang tadinya (seperti)
ditinggalkan oleh Tuhan, diterima dan dikenan kembali oleh Allah. Orang Israel
tidak akan menjadi sumber cela lagi bangsa-bangsa lain. Inilah janji Tuhan
kepada mereka.
Saya tidak
tahu -jika kita di posisi orang Israel pada saat itu- apakah kita akan percaya
pada janji itu atau mempertanyakannya atau malah tidak peduli sama sekali pada
janji itu.
Tapi dari teks ini kita bisa melihat bagaimana (penulis) Yesaya mau mempercayai segala sesuatu yang Allah sampaikan kepadanya. Ia bahkan mau mengingatkan bangsa Israel akan janji Allah itu sendiri.
Di ayat 1
terlihat bagaimana komitmen Yesaya untuk terus menggaungkan semangat kepada
bangsa Israel. Ia berkomitmen untuk terus berdoa kepada bangsa Israel sampai bangsa
Israel benar-benar pulih. Yesaya tidak takut mengingatkan bangsa ini akan janji
Allah dan ia sendiri tidak takut untuk mempercayai janji pemulihan itu.
Mengapa? Karena Tuhan sendiri yang telah berjanji kepada mereka(ay. 8). Tuhan
telah menepati janjiNya untuk membebaskan bangsa Israel dari tanah Babel, dan
bukan tidak mungkin Tuhan pun akan menepati janji-Nya untuk membangun kembali
Yerusalem. Kebaikan-kebaikan Allah di masa lampau telah menjadi bukti bahwa
Allah menepati janji-Nya.
***
Saat ini, banyak
orang Kristen yang redup pengharapannya kepada Tuhan karena (merasa) tidak
melihat tanda penyertaan dari Tuhan. Banyak orang Kristen saat ini hilang
keinginannya untuk berhadap pada Tuhan karena menganggap Tuhan tak mampu
mengatasi situasi sulit yang ia hadapi saat ini. Saat ini banyak juga orang
Kristen tidak berani menyuarakan pengharapan kepada Tuhan, karena ia sendiri
pun ragu pada janji Tuhan itu. Tapi hari ini kita diingatkan : Sebagaimana
Allah telah berjanji dan menepati janjiNya kepada bangsa Israel, maka janji
Allah dalam kehidupan kita pun akan Ia tepati.
Keadaan yang kita lalui mungkin sangat buruk, situasi yang kita alami
mungkin sangat sulit, tapi tidak pernah kurang cara Allah untuk menepati
janjiNya kepada kita. Ia akan menepatinya. Oleh karenanya, pertama-tama kita
diingatkan: Percayalah! Imanilah! Yakinilah!
Hal kedua yang
bisa kita lakukan dari firman Tuhan ini adalah : seperti Yesaya, kita pun mau
membagikan pengharapan kita kepada orang lain. Kita bertanggungjawab
mengingatkan mereka akan janji dan kasih Tuhan. Pengharapan kepada Tuhan
bukanlah pengharapan yang disimpan sendiri, namun pengharapan yang dibagikan
kepada orang lain. Sebab saat ini pun, ada banyak orang yang sedang ditimpa
susah hati, entah karena ekonomi yang sulit, keluarga yang berantakan,
pekerjaan yang kacau balau dan lain sebagainya. Maka beritakan pulalah
pengharapan itu. Sehingga mereka pun boleh melihat kebaikan-kebaikan Tuhan
dalam situasi sulit yang mereka alami.
Bapak/Ibu/Saudara, berpengharapan dan menyuarakan pengharapan dalam situasi sulit memang bukan hal yang mudah. Sering sekali kita lebih fokus pada situasi yang kita hadapi daripada percaya pada janji Allah itu sendiri. Tapi hari ini kita belajar dari Yesaya yang mau melihat kebaikan-kebaikan Allah di masa lalu. Kalau dulu Allah telah menolong menyertai, maka saat ini pun Allah mau menolong menyertai. Kalau dulu Allah telah menyatakan kuasaNya, maka saat ini pun Allah masih mau menyatakan kuasaNya. Kalau dulu Allah telah menepati janjiNya, maka saat ini pun Allah mau menepati janji-Nya. Lalu kurang bukti apa lagi bahwa Tuhan akan menyertai kita hari ini? Kasih dan kuasaNya tidak berubah. Ia tidak berubah!
KJ 383
yang kita nyanyikan tadi dengan indah menulis :
Sungguh
indah kabar mulia; hai percayalah
Yesus
Kristus tak berubah s’lama-lamanya
DarahNya
tetap menghapus dosa dan cela
Ia
hibur yang berduka. Puji namaNya
Baik
kemarin, hari ini, s’lama-lamanya
Yesus
Kristus tak berubah, puji namaNya
Puji
nama-Nya, puji nama-Nya
Yesus
Kristus tak berubah, puji namaNya!
Komentar
Posting Komentar