Rancangan Khotbah | Matius 21:1-11

 Saya yakin kita semua pasti pernah membaca Alkitab. Di antara kita mungkin ada yang sudah membaca seluruh isi Alkitab, mungkin ada yang sudah membaca setengah isi Alkitab, atau ada yang sudah pernah membaca satu kitab atau satu pasal dalam Alkitab. Mustahil jika ada di antara kita yang tidak pernah membaca Alkitab. Paling tidak, sebelum saya khotbah ini, kita sudah bersama-sama mendengar atau membaca Alkitab tadi -walaupun hanya sebelas ayat saja-.

 

Nah, menurut Bapak/Ibu, apa hal yang menghubungkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru? Seperti yang kita ketahui, Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ada 37 kitab Perjanjian Lama dan 29 kitab Perjanjian Baru. Apa kira-kira hal yang menghubungkan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru ini?

 

Satu-satunya yang menghubungkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru adalah berita tentang Yesus Kristus. Perjanjian Lama mengabarkan bahwa akan datang karya keselamatan dalam Yesus Kristus dan Perjanjian Baru mengisahkan berita tentang keselamatan yang telah terjadi dalam diri Yesus Kristus. Jadi ketika kita pun misalnya berbicara tentang kitab Kejadian, meskipun tidak ada nama Yesus di situ, tapi kitab Kejadian menjelaskan alasan mengapa Yesus harus datang ke dunia. Jadi kisah Yesus dalam Perjanjian Baru bukan terjadi secara kebetulan, tapi sudah benar-benar dinubuatkan ratusan bahkan ribuan tahun.

 

Maka penting sekali bagi kita orang Kristen untuk membaca Alkitab secara utuh sebenarnya. Kita berharap dengan membaca Alkitab secara utuh, Tuhan menuntun kita memahami karya keselamatan-Nya dalam diri Yesus Kristus.

 

Hari ini kita membaca kisah ketika Yesus mengendarai keledai menuju Yerusalem. Saya kira ini kisah cukup dikenal banyak orang. Ada banyak sekali gambar yang memperlihatkan Yesus yang menaiki keledai dan orang-orang bersorak-sorak pada-Nya.

 

Pada ayat 1-3, diceritakan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sampai di Betfage, Yesus menyuruh kedua muridNya untuk mengambil keledai yang ada di kampung dekat mereka saat itu.

 

Bagi orang Israel, keledai muda yang belum pernah ditunggangi juga sering dipakai para bangsawan. Raja-raja Israel dan para bangsawan tidak hanya memakai kuda, tapi juga memakai keledai muda sebagai kendaraan mereka. Ketika Yesus mengendarai keledai ini, secara tidak langsung Yesus sendiri mau menyatakan bahwa Ia sendiri adalah seorang Raja. Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah seorang Raja.

 

Tapi pemilihan keledai sebagai kendaraan-Nya hendak menunjukkan bahwa Yesus bukan Raja seperti yang dipikirkan oleh orang Yahudi saat itu. Keledai tidak pernah dipakai untuk berperang. Berbeda dengan kuda yang memang sering dipakai orang dalam peperangan. Orang Yahudi saat itu mengharap-harapkan Yesus datang sebagai raja dalam arti politik, yang membebaskan mereka dari bangsa Romawi, tapi Yesus sendiri katakan "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini" (Yoh. 18:36). Yesus datang tidak untuk membebaskan mereka seperti yang mereka kira. Cara Yesus memerintah sendiri bahkan tidak sama dengan dunia ini. Kalau pemerintah dunia menggunakan tangan besi untuk memerintah, maka Yesus datang dalam kerendahan hati. Maka tidak heran sebenarnya mengapa Yesus sampai tertawan di kayu salib. Pada ayat 4-5 katakan :  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." Kalau kita membaca Perjanjian Lama, nubuatan tentang seorang Raja yang lemah lembut dan yang mengendarai keledai ini disampaikan oleh Nabi Zakharia. Itulah alasan mengapa Yesus lebih memilih menunggangi keledai. Sebagaimana yang saya sampaikan tadi, kehidupan Yesus bukan terjadi secara kebetulan, tapi benar-benar penggenapan dari Perjanjian Lama.

 

Pada ayat 6-7, murid-murid ini pun kembali membawa keledai seperti yang dikatakan oleh Yesus. Tidak sulit bagi Yesus untuk menyuruh murid-murid-Nya meminjam keledai orang-orang kampung di situ. Kita tahu bahwa popularitas Yesus semakin meningkat dari hari ke hari. Orang-orang di segala tempat sudah hampir semua mengetahui siapa itu Yesus. Jadi mudah bagi Yesus untuk meminta sesuatu yang diperlukan-Nya. Tapi menarik sekali, sekalipun Yesus sebenarnya bisa mengambil keledai itu, kalau kita kembali pada ayat yang ketiga, Yesus memberi jaminan : Ia akan segera mengembalikannya. Yesus tidak mengambil keledai itu begitu saja. Sekalipun Ia berhak, Ia tetap menghormati pemilik keledai tersebut.

 

Model karakter seperti Yesus ini sangat perlu untuk kita teladani. Sekalipun Ia berkuasa dan poluler, Ia tidak menggunakan kekuasaan dan popularitas-Nya untuk mengambil keuntungan bagi diri-Nya sendiri. Berbeda dengan yang kita lihat-lihat sekarang ini. Kalau sudah berkuasa dan tenar, banyak orang menggunakan kesempatan itu untuk mengambil keuntungan bagi diri mereka sendiri. Tapi tidak demikian dengan Yesus.

 

Ketika Yesus menaiki keledai tersebut, orang-orang yang sangat besar jumlahnya pun menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan (ay. 8). Yang dilakukan oleh orang-orang saat itu masih kita peringati sampai saat ini. Bertepatan dengan nama minggu ini, -minggu Palmarum- juga diambil dari kata Palma atau Palem. Di beberapa gereja, ada tradisi umat akan melambai-lambaikan daun palem yang menyatakan bahwa umat pun ikut serta bersama Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem (https://id.wikipedia.org/wiki/Minggu_Palma).

 

Tertulis di ayat 8 bahwa orang-orang sangat antusias menyambut kedatangan Yesus. Ada yang berjalan di depan dan di belakang Yesus sambil berkata, "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi (ay. 9)!

 

Hosana artinya : Tolong, selamatkan kami! Orang-orang Yahudi saat itu benar-benar sangat mengharapkan Yesus menjadi penolong mereka untuk melepaskan mereka dari penindasan bangsa Romawi.  Arak-arak yang terjadi saat itu sampai seluruh kota itu. Banyak bertanya-tanya siapa Dia? Pada ayat 11, orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea."

 

Luapan sukacita orang Yahudi atas kedatangan Yesus pada teks ini memang sangat bagus sekali. Mereka menaruh harap pada Yesus untuk menolong mereka. Dan memang seharusnya begitu. Tapi di sisi lain, sangat disayangkan bahwa orang-orang Yahudi ini belum sepenuhnya memahami tujuan Yesus. Pikiran mereka hanya terfokus pada pembebasan politik, sedangkan Yesus bekerja melebihi itu semua. Maka ketika Yesus tidak berbuat seperti apa yang mereka inginkan, orang-orang yang tadinya memuji dan bersorak untuk Yesus, berteriak keras juga untuk menyalibkan Yesus.

 

Dengan membaca teks ini kita belajar dari orang-orang Yahudi dulu : berserulah minta pertolongan kepada Tuhan, tapi jangan kerdilkan Tuhan ketika yang kau harapkan tidak dilakukan-Nya! Tuhan tetaplah Tuhan sekalipun permohonan kita dikabulkan atau tidak. Jangan sekali-kali kita menghilangkan rasa hormat kita pada-Nya!

 

Hari ini kita diingatkan bahwa Yesus sungguh-sungguh Raja yang dijanjikan oleh Allah. Yesus sendiri berkata bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya (Mat. 28:18). Dan itu sudah dibuktikanNya. Sekalipun Ia disalibkan, maut tidak dapat mengalahkan-Nya. Yesus bangkit dari kematian-Nya.

 

Oleh karenanya, orang Kristen seharusnya tidak perlu kuatir tentang apapun di dunia ini. Kalau hal-hal besar saja, seperti kematian, bisa ditaklukan oleh Tuhan Yesus, bukankah hal-hal yang kita alami dalam hidup ini sebenarnya merupakan hal-hal yang sangat kecil sekali bagi-Nya?

 

Banyak sekali orang stress karena masalah hidupnya. Uang di kantong sudah kosong, beras di rumah sudah tidak ada lagi, hubungan dengan keluarga begitu berantakan, belum penyakit yang tidak sembuh-sembuh. Secara manusia kita memang takut dan kuatir, panik dan seolah tidak berdaya. Sampai banyak orang kuatir sampai tidak bisa makan dan minum, sampai tidak bisa tidur dengan tenang. Tapi hari ini kita diingatkan, kita punya penolong! Hosana, selamatkanlah kami!

 

Itulah arti hosana yang sebenarnya. Hosana artinya tolong, selamatkanlah kami! Menyadari bahwa kita punya penolong yang lebih besar akan membuat kita bersorak sekalipun kita berada di dalam tekanan hidup. Kita punya Penolong!

 

Saya sendiri harus jujur, kalau lagi ada permasalahan yang berat, sering saya merasa seolah tidak ada jalan lain sampai akhirnya tidak ada kedamaian dalam hati. Tapi hari ini saya diingatkan, kalau ada tekanan hidup, kalau ada masalah, jangan pendam sendiri, berserulah kepada Tuhan! Hosana, tolong selamatkan kami! Jadi orang Kristen seharusnya tidak perlu kuatir tentang apapun juga di dunia ini. Penolong kita sudah buktikan, bahwa Dia sungguh-sungguh berkuasa atas langit dan bumi! Jadi kalau ada pergumulan hidup, berserulah kepada Tuhan. Jangan justru makin jauh dari-Nya.

 

Yang kedua, ketika kita sudah berseru kepada Tuhan, tapi ternyata seruan kita tidak dijawab seperti yang kita harapkan, jangan buru-buru marah dan mengutuk Tuhan. Jangan buru-buru marah dan merasa bahwa Tuhan tidak sanggup mengatasi persoalan kita. Jangan buru-buru pindah agama karena jawaban doa kita tidak terkabul. Tidak terkabulnya doa kita bukan pertanda bahwa Tuhan tidak berkuasa. Sama seperti yang disampaikan dalam teks saat ini, ada sesuatu yang lebih besar yang dikerjakan-Nya untuk kita. Kalau kita hanya mikir masalah ekonomi kita terselesaikan, Tuhan memikirkan jauh lebih besar dari situ. Kalau kita hanya mikir masalah keluarga kita, Tuhan memikirkan hal yang jauh lebih besar dari situ. Kalau kita hanya memikirkan persoalan hari ini, Tuhan memikirkan hal-hal baik untuk ke depannya bagi kita. Tuhan selalu bekerja atas diri kita!

 

Jadi jangan buru-buru marah kepada Tuhan kalau jawaban doa kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yesus sendiri sudah buktikan. Apa yang dipikirkan dan disediakan-Nya untuk kita itu jauh lebih besar dari yang kita pikirkan sendiri. Meskipun cara-Nya bekerja tidak seperti yang kita harapkan, tapi semua yang dilakukan Tuhan tujuannya satu, yaitu membawa damai sejahtera bagi mereka yang berharap kepadaNya. Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rancangan Khotbah | Efesus 4:25-32

Rancangan Khotbah - Yeremia 31:10-14

Rancangan Khotbah Yesaya 62:1-5