Rancangan Khotbah | Mazmur 22:23-32

 Menurut Bapak/Ibu/Saudara, apa yang menjadi tanda bahwa seseorang itu beriman kepada Tuhan? Menurut Bapak/Ibu/Saudara, apa yang menjadi tanda bahwa seseorang itu percaya kepada Tuhan? Apakah menurut Bapak/Ibu/Saudara, orang yang beriman dan orang yang percaya kepada Tuhan adalah mereka yang tidak pernah ada kebimbangan; tidak pernah ada keraguan; dan yang tidak pernah ada pertanyaan dalam hatinya? Misalnya Tuhan menyuruhnya melakukan banyak hal; lalu dia ikut saja, patuh, dan tidak ada tanya-tanya; itukah yang disebut sebagai orang beriman?

 

Kalau ukuran orang beriman adalah mereka yang tidak pernah mempertanyakan kuasa Tuhan; kalau ukuran orang beriman adalah mereka yang tidak pernah meragu dalam hidupnya; maka saya kira tidak akan ada orang yang beriman di dunia ini. Sebab dalam Alkitab sendiri, Abraham yang disebut sebagai bapa orang percaya pun, pernah mempertanyakan janji Tuhan. Ayub yang kita sebut sebagai orang yang setia pun, pernah mempertanyakan jalan-jalan Tuhan dalam hidupnya.

 

Lalu mengapa Abraham dan Ayub disebut sebagai orang yang percaya dan setia pada Tuhan?

 

Abraham dan Ayub disebut sebagai orang yang percaya dan setia pada Tuhan bukan karena mereka tidak pernah ragu dalam hidupnya. Mereka disebut percaya dan setia kepada Tuhan bukan karena mereka tidak pernah bergumul tentang rencana Tuhan dalam hidup mereka. Tapi mereka disebut setia, karena sekalipun dalam keragu-raguan, mereka tetap memilih untuk percaya pada janji Tuhan. Mereka disebut setia, karena sekalipun ada pertanyaan dalam hati mereka, tapi mereka tetap memilih untuk mau ikut jalan Tuhan.

 

Jadi orang yang beriman, orang yang setia, orang yang percaya pada Tuhan, bukanlah mereka yang tidak pernah ragu atau bimbang pada jalan-jalannya Tuhan. Orang yang beriman, orang yang setia, dan yang percaya pada Tuhan bukanlah mereka yang tidak pernah gelisah atas janji Tuhan dalam hidup mereka. Tapi orang yang beriman, setia, dan percaya adalah mereka, yang sekalipun ada banyak pertanyaan dalam hati mereka, yang sekalipun ada amarah dalam hati mereka, yang sekalipun ada banyak kebimbangan dalam hati mereka, tapi mereka tetap memilih untuk berseru kepada Tuhan karena mereka tahu bahwa Tuhan pun adalah penolong yang setia.

 

Jadi kalau sesekali Bapak/Ibu/Saudara bertanya-tanya tentang kuasa Tuhan dalam kehidupan di dunia ini, itu adalah hal yang wajar sekali. Yang tidak wajar ketika setiap saat mempertanyakan kuasa Tuhan. Dikit-dikit minta tanda, dikit-dikit meragu, dikit-dikit merajuk. Itu kurang lebih sama seperti orang Israel, yang menguji Tuhan. Dan itu justru tanda ketidakdewasaan iman.

 

Hari ini kita belajar dari Daud, bagaimana ia dalam keraguannya tetap memilih untuk percaya kepada Tuhan.

 

Kalau berbicara tentang Daud, saya kira semua kita tahu bagaimana kehidupannya. Daud adalah seorang raja besar di Israel. Daud punya kekuatan dan kekuasaan. Dia begitu hebat berperang, sampai banyak musuh-musuh takluk kepadanya. Dan tidak hanya kekuatan secara fisik, secara spiritual Daud juga disebut sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan (Kis. 13:22). Kalau kita melihat apa yang dimiliki oleh Daud, hidupnya terasa sangat sempurna sekali.

 

Tapi di balik kekuatan dan kekuasaannya, di balik kedekatannya dengan Tuhan, ternyata Daud juga memiliki pergumulan besar dalam hidupnya. Kalau kita membaca dari ayat 12-19, Daud sedang diancam oleh musuh-musuhnya. Dan terlihat bahwa Daud tidak memiliki kekuatan untuk melawan musuh-musuh yang ada di sekelilingnya. Hal ini terjadi bukan saja karena musuhnya lebih hebat dari dirinya, tapi saat itu kekuatan Daud juga melemah. Ada penyakit dalam tubuhnya yang membuat dirinya lemah menghadapi musuh-musuhnya.

 

Dalam situasi seperti ini, seperti biasa Daud pun berseru kepada Tuhan. Memohon pertolongan Tuhan agar melepaskannya dari ancaman yang ada di sekelilingnya.

 

Tapi sayang sekali, ternyata seruan Daud itu tidak menghasilkan jawaban dari Tuhan. Doa-doa yang disampaikan oleh Daud seperti sia-sia saja tidak ada hasilnya.

 

Itulah yang membuat Daud merasa heran terhadap Tuhan. Sekali dua kali doa tak dijawab mungkin dia masih bisa berdoa lagi. Tiga empat kali dia berseru kepada Tuhan dan,tidak dijawab mungkin dia masih bisa berterima. Tapi kalau sudah berkali-kali berteriak, berdoa, berseru pada Tuhan, dan tidak ada jawaban, siapa yang tahan untuk tetap berseru pada Tuhan?

 

Itulah yang membuat Daud berteriak mempertanyakan kehadiran Tuhan. Pada ayat 2-3, Daud bertanya kepada Tuhan : mengapa Kau tinggalkan aku? Mengapa Tuhan tetap jauh dan tidak menolong aku? Ia merasa bahwa Tuhan tidak seperti Tuhan yang ia kenal. Bahkan saking lamanya Tuhan menjawab seruannya, Daud sampai merasa rendah diri dan tidak berharga di hadapan Tuhan. Ia merasa bahwa dirinya tidak seperti orang lain yang mendapat pertolongan dari Tuhan (ay. 7).

 

Ini menjadi catatan penting juga bagi kita. Orang yang berkenan di hadapan Tuhan pun menunggu lama untuk jawaban atas doa-doanya. Bukan karena kita dekat dengan Tuhan lalu doa-doa kita segera dijawab oleh Tuhan. Bukan karena kita selalu melakukan perintah Tuhan lalu doa-doa kita segera dikabulkan oleh Tuhan. Daud saja seorang yang berkenan di hati Tuhan pun menanti-nanti dengan lama jawaban dari Tuhan itu sendiri. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk memurnikan motivasi kita dalam melakukan sesuatu. Jangan rajin ke gereja hanya dengan harapan doa akan segera dikabulkan Tuhan. Jangan rajin melakukan hal baik hanya dengan harapan doa akan segera dijawab oleh Tuhan. Kita melakukan semuanya itu karena memang kita tahu, bahwa hanya kepada Tuhan sajalah seluruh doa dan ibadah kita tertuju.

 

Nah, ternyata, sekalipun Daud mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, sekalipun Daud merasa Tuhan jauh dari dirinya, semua hal itu tidak membuatnya berhenti berharap pada Tuhan. Kalau kita membaca ayat 20-32, Daud justru kembali lagi memohon pertolongan kepada Tuhan. Ia kembali berseru lagi kepada Tuhan. Karena ia tahu, hanya Tuhan satu-satunya yang dapat menolongnya. Ia tahu bahwa Tuhan itu adil, baik, dan setia dan tidak mungkin Ia menyembunyikan wajahNya kalau ada orang yang berseru kepadaNya.

 

Itulah yang membuat Daud yakin untuk tetap berharap kembali pada Tuhan. Ia percaya, setiap orang yang berseru pada Tuhan, tidak akan pernah dikecewakan. Mungkin waktunya bukan sekarang, tapi cepat atau lambat, orang yang mencari pertolongan Tuhan, akan merasakan sukacita.

 

Dalam penderitaan yang ia alami, dalam keraguan yang ada di hatinya, Daud pun memilih untuk kembali percaya pada Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan itu setia, tidak akan membiarkan orang yang berseru kepada-Nya pulang dengan sia-sia.

 

Bapak/Ibu/Saudara, tema Firman Tuhan pada saat ini adalah Orang yang Mencari Tuhan akan Memuji Nama-Nya.

 

Barangkali banyak juga hal di kehidupan kita juga yang membuat kita meragukan kehadiran Tuhan. Barangkali banyak juga hal di kehidupan kita juga yang membuat kita meragukan penyertaan Tuhan.

 

Mungkin di antara kita pernah ada yang bertanya-tanya; kalau Tuhan ada, mengapa Ia tidak menjawab doa saya?; kalau Tuhan berkuasa, mengapa Tuhan tidak menyembuhkan penyakit saya?; kalau Tuhan itu baik, mengapa Dia tidak kasihan kepada keluarga saya?; dan banyak pertanyaan lain yang muncul dalam pikiran kita.

 

Sekali dua kali kita berdoa, tak dijawab, kita doa kembali.

Hal-hal buruk dalam hidup kita sudah kita ubah untuk mendapatkan belas kasihan Tuhan.

Yang tadinya kita tidak rajin ke gereja menjadi rajin ke gereja agar Tuhan mendengar doa kita.

 

Tapi ditunggu-tunggu, jawaban doa kita tak juga muncul-muncul. Keadaan bukan semakin baik justru semakin parah. Di situasi seperti ini, siapa yang tidak akan heran. Tentu kita akan bertanya-tanya : Mana kuasa Tuhan? Mana kehebatanNya? Mana kasihNya?

 

Dan dalam pertanyaan-pertanyaan ini, dan dalam pergumulan-pergumulan ini, mungkin sampai saat ini pun kita masih belum menemukan jawabannya. Teman, guru, orangtua, pendeta kita pun mungkin sampai saat ini tidak bisa memberi jawab atas pertanyaan kita tadi.

 

Mungkin kita pun sudah lelah untuk bertanya lagi. Mungkin pengharapan kita kepada Tuhan sudah hampir kandas tidak ada lagi.

 

Tapi belajar dari Daud, ia tahu, selambat-lambatnya Tuhan beri jawab, Ia tidak akan memalingkan wajahNya kepada orang yang mencari pertolongan dariNya. Selambat-lambatnya jawaban dari Tuhan, pastilah Tuhan akan kasih jawaban juga.  

 

Dan kalau kita melihat kembali kehidupan kita ke belakang, kalau kita melihat kembali segala kebaikan Tuhan yang telah kita terima sebelumnya, kalau kita melihat kembali ke belakang bagaimana penyertaanNya di kehidupan kita, bukankah semuanya itu cukup menjadi pertanda bahwa ada Tuhan dalam hidup kita?

 

Tidak disebutkan bagaimana kehidupan Daud setelah ia memilih untuk tetap percaya pada Tuhan. Tapi ketika Yesus mengutip mazmur ini, dalam seruanNya di salib Ia berteriak : Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan-Ku?, dan di akhir hidupNya, Dia juga berkata : ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu,  Yesus pun mengalami kemenangan.

 

Yesus menjadi saksi bahwa orang yang tetap mencari Tuhan dalam kesusahan hidup yang ia tanggung, tidak akan pulang dengan sia-sia. Cepat atau lambat, ia akan menyaksikan pertolongan dari Tuhan itu. Ia akan bangkit dalam kesusahannya itu.

 

Oleh karenanya, jika saat ini kita pun sedang meragu atas kuasa Tuhan, ingat kembalilah bagaimana kuasaNya telah menolong kita pada hari-hari yang telah kita lalui. Jangan biarkan pergumulan dan tekanan hidup yang kita alami membuat kita kehilangan iman pengharapan kita kepada Tuhan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rancangan Khotbah | Efesus 4:25-32

Rancangan Khotbah - Yeremia 31:10-14

Rancangan Khotbah Yesaya 62:1-5