Rancangan Khotbah | Wahyu 12:1-6

Kalau kita mengikuti pembacaan teks Alkitab pada malam hari ini, pikiran kita mungkin seolah-olah dibawa ke peristiwa peperangan zaman dulu. Kalau kita bayang-bayangkan, yang terjadi di teks Alkitab malam hari ini seperti film-film zaman dulu, bagaimana manusia berhadapan dengan naga merah yang besar. Iseng saya cari di google, ternyata ada semacam gambar yang bisa menjadi ilustrasi kalau teks Alkitab ini dilukis. 

 

Kitab Wahyu ini memang sedikit berbeda dengan kitab-kitab yang lainnya. Kalau kita membaca kitab Amsal misalnya, kita akan mengerti bahwa ada banyak nasehat-nasehat di dalamnya. Kalau kita membaca Injil Matius, Markus atau Lukas, kita akan membaca banyak perumpamaan dari Tuhan Yesus. Kalau kita membaca kitab Perjanjian Lama, kita akan baca sejarah Israel dan lain sebagainya. Tapi ketika kita membaca kitab Wahyu, kita akan menemukan banyak sekali hal-hal yang kurang masuk akal. Seperti yang kita baca pada malam hari ini: perempuan di atas bulan; naga berkepala lima; dan lain sebagainya. Apakah hal ini pernah terjadi terjadi? Atau apakah ini benar-benar akan terjadi pada masa yang akan datang?

 

Bapak/Ibu/Saudara, kitab Wahyu ini memang menyingkapkan sesuatu yang akan terjadi. Kurang lebih kitab Wahyu ini mau menyatakan beginilah keadaan yang sudah terjadi dan yang akan terjadi. Tapi keadaan saat ini dan keadaan yang akan datang ini disampaikan dengan simbol-simbol. 

 

Simbol-simbol biasanya dipakai untuk menyampaikan suatu pesan. Selalu ada makna yang terkandung dalam simbol. Misalnya ketika kita melihat tanda panah ke atas, itu bukan berarti ada panah yang akan memanah kita. Tanda panah ke atas artinya lurus terus. Jalan lurus saja. Kita tidak boleh memaknai simbol secara harafiah. Tidak bisa ditelan bulat-bulat istilahnya. Tapi kita harus cari tahu, apa makna dari simbol tersebut. Meskipun tidak semua kata dalam kitab Wahyu harus dimaknai secara rinci, sebab ada beberapa simbol yang memang tidak punya arti apa-apa. Tapi umumnya, simbol-simbol dalam kitab Wahyu ini punya makna.

 

Jadi saat kita membaca teks Alkitab pada malam hari ini, kita tidak boleh langsung membayangkan bahwa di dunia yang akan datang sungguh-sungguh akan ada ular naga yang melawan perempuan. Kita tidak boleh langsung membayangkan bahwa akan ada perempuan yang sedang mengandung dan sedang berdiri di atas bulan. Gambar-gambar ini punya arti. Gambar-gambar ini punya makna. Lalu apa makna dari simbol-simbol yang kita baca tadi?

 

Perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya merupakan simbol dari bangsa Israel. Kalau kita membaca kitab Mikha 4:10, bangsa Israel digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengandung. Gambaran perempuan yang mengandung dan melahirkan seorang Anak laki-laki yang berkuasa hendak menunjukkan bahwa Mesias atau Yesus Kristus itu lahir dari Israel. 

 

Lalu pada ayat 3 dikatakan ada seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Gambaran naga merah yang besar ini sering dipakai untuk menggambarkan kuasa Iblis. Kalau kita membaca Wahyu 12:9 jelas tertulis di situ bahwa naga besar, si ular tua, disebut juga sebagai Iblis atau Satan. Pekerjaannya adalah menyesatkan seluruh dunia. Penyesatan yang dilakukan oleh si Iblis ini tidak hanya terjadi pada manusia saja, tapi juga pada malaikat-malaikat. Pada ayat 4 dikatakan bahwa ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Simbol bintang ini sering dikaitkan dengan malaikat. Dan tidak hanya menyesatkan seluruh dunia, Iblis pun berniat untuk menggagalkan rencana Allah dalam diri Yesus Kristus. Pada ayat 4b dikatakan : Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Tapi rencana Tuhan tidak dapat digagalkan oleh si Iblis. Pada ayat 5 dikatakan :  Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Ini menggambarkan bagaimana kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus menjadi jaminan bahwa Ia tidak dapat dikalahkan. Iblis dengan kekuatan mautnya tidak dapat mengalahkan Yesus Kristus. 

 

Tapi sekalipun Iblis tak dapat mengalahkan Yesus, pekerjaan penyesatannya masih dilakukan kepada para pengikut-pengikut Yesus. Dalam Perjanjian Baru, umat Allah yang sejati adalah mereka yang percaya pada Yesus Krsitus. Dan tertulis pada ayat 6 bahwa umat Tuhan atau orang-orang percaya ini akan tetap dikejar-kejar oleh kuasa si Iblis. Namun sekalipun demikian penganiayaan terhadap orang percaya ini hanya sementara. Bahkan dalam penganiayaan yang terjadi pada orang percaya, Tuhan tetap memelihara mereka. 

 

Singkatnya, perikop ini mau menyampaikan kepada kita sebelum Yesus Kristus datang kedua kali, sebelum langit dan bumi yang baru itu datang, maka orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan akan mengalami cobaan, tantangan, bahkan siksaan yang akan dipakai si Iblis untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Sebagaimana dalam kisah Ayub, Iblis buat Ayub mengalami banyak penderitaan. Tujuannya hanya satu : agar Ayub jauh dari Tuhan. 

 

Pada akhirnya, teks ini membantu kita memahami mengapa begitu banyak tantangan yang dialami oleh orang percaya. Sering orang Kristen berkata mengapa ketika semakin dekat dengan Tuhan semakin banyak juga cobaan yang melanda? Mengapa ketika semakin dekat dengan Tuhan semakin banyak juga tantangan dalam hidup ini? Mengapa semakin rajin ke gereja semain banyak juga masalah yang dihadapi? Dan tidak jarang banyak orang pelan-pelan meninggalkan Tuhan karena banyaknya masalah hidup yang dihadapinya. 

 

Malam hari ini kita diingatkan jangan tertipu pada penyesatan yang dilakukan oleh si Iblis. Kesulitan hidup yang membuat kita jauh dari Tuhan adalah tipu daya dari si Iblis. Semua itu dipakai si Iblis untuk menyesatkan hati dan iman kita dari Tuhan. 

 

Oleh karenanya penting bagi kita untuk waspada supaya kita jangan terkecoh dan tertipu. Jangan tinggalkan Tuhan ketika situasi semakin sulit. Jangan ikuti suara hati yang menyuruh kita meninggalkan gereja dan persekutuan ketika masalah tak kunjung selesai. Jangan ikuti suara hati yang menyuruh kita untuk malas berdoa ketika pergumulan-pergumulan terus datang. Itu pekerjaan si Iblis untuk membuat kita jauh dari Tuhan. Tapi apa yang harus kita lakukan ketika mengalami pergumulan-pergumulan berat dalam hidup? Semakin berat tantangan maka semakin berpegang teguhlah kita pada Tuhan! 

 

Firman Tuhan malam hari ini ingatkan kita bahwa cobaan dari si Iblis yang datang kepada kita tidak untuk selama-lamanya. Cobaan hidup ini akan berakhir. Cobaan hidup ini akan selalu ada batasnya. Bahkan dalam pencobaan ini sendiri pun, Tuhan memelihara kita. Maka jangan sampai dalam persoalan sulit, kita buru-buru ambil keputusan untuk tinggalkan Tuhan. Jangan sampai nanti kita menyesal.

 

Oleh karenanya, jika saat ini kita sedang mengalami persoalan dan pergumulan kehidupan, maka semakin bertahan dan berpegang teguhlah kepada Tuhan. Tidak akan sampai habis-habisan Tuhan mengizinkan cobaan itu terjadi dalam hidup kita.  Tekanan hidup ini hanya sementara bahkan dalam tekanan hidup ini pun Allah tetap pelihara.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rancangan Khotbah | Efesus 4:25-32

Rancangan Khotbah - Yeremia 31:10-14

Rancangan Khotbah Yesaya 62:1-5