Rancangan Khotbah | Yohanes 10:11-18

Dalam Kristus Yesus saya menyapa kita semua, Syalom!

Bapak/Ibu/Saudara, istilah mencari kesempatan dalam kesempitan sepertinya bukan hal yang baru lagi di telinga kita. Mungkin ada di antara kita yang sudah pernah melihat atau menyaksikan sendiri ada orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Istilah mencari kesempatan dalam kesempitan memiliki arti bahwa ada orang-orang yang memanfaatkan situasi di tengah-tengah kelemahan orang lain. Di satu sisi, istilah ini dapat bermakna positif. Tapi di sisi lain istilah ini sering juga bermakna negatif, karena orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan biasanya memanfaatkan kelemahan orang untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Misalnya saja ketika anak-anak menipu orangtuanya. Karena orangtuanya tidak paham apa-apa, karena orangtuanya tidak bisa membaca dan tidak paham teknologi, lalu si anak memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri (cerita pengalaman sendiri).

 

Dalam Alkitab, terdapat juga orang-orang yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan. Salah satu contoh orang-orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan dalam Alkitab adalah orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi termasuk salah satu pemimpin-pemimpin keagamaan orang Israel. Sebagai pemimpin keagamaan, orang Farisi harusnya suka memberitakan kebenaran. Sebagai pemimpin keagamaan, orang Farisi harusnya menuntun bangsanya semakin mengenal Tuhan. Tapi sayang sekali, dalam praktik kehidupan orang Farisi, mereka justru menolak kebenaran dan tidak menuntun orang berjalan dalam kebenaran.

 

Kalau kita membaca keempat kitab Injil, maka kita akan menemukan banyak sekali pertentangan yang terjadi antara Yesus dengan orang Farisi. Mereka tidak hanya menolak Yesus tapi juga menghalang-halangi orang untuk percaya pada Yesus. Dalam Yohanes  9:22, tertulis bahwa orang-orang Yahudi pada saat itu sepakat untuk mengucilkan setiap orang yang menerima Yesus sebagai Mesias. Dan orang-orang Farisi inilah dalang yang menghasut mereka menolak Yesus.

 

Apa yang membuat orang-orang Farisi menolak Yesus? Apa yang membuat orang-orang Farisi menutup-nutupi kebenaran padahal sebagai pengajar mereka harusnya memberitakan kebenaran? Apa yang membuat orang-orang Farisi tidak menuntun orang dalam kebenaran padahal sebagai pengajar seharusnya menerima pengajaran Yesus karena apa yang diajarkan oleh Yesus juga tertulis dalam kitab-kitab yang mereka baca?

 

Ketidakpedulian orang Farisi menuntun umat mengenal kebenaran terjadi karena orang-orang Farisi takut kehilangan pengaruh mereka di kalangan masyarakat pada saat itu. Yohanes  12:43 tertulis : Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah. Ketika semua orang mengikut Yesus, maka mereka tidak akan mendapat pengaruh lagi. Ketika mereka tidak berpengaruh lagi, bisa-bisa sumber kehidupan mereka atau nafkah mereka pun hilang; orang tidak akan lagi memberi persepuluhan; orang tidak akan lagi mempersembahkan korban; dan lain sebagainya (https://alkitabonline.org/mengapa-farisi-ganas-menentang-Tuhan-Yesus.html). Dalam Lukas 16:14 sendiri jelas tertulis bahwa orang-orang Farisi itu adalah hamba-hamba uang. Dan kecintaan mereka untuk mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri nampak dalam praktik kehidupan mereka. Mereka tidak peduli pada umat Allah, mereka tidak peduli pada keselamatan umat Tuhan, mereka hanya berfokus pada kepentingan diri mereka sendiri.

 

Ketika saya membaca ini, tersontak hati saya. Jangan-jangan Ibu Pendeta juga sudah mirip-mirip orang Farisi. Tidak peduli bagaimana keadaan umat, umat bagaimana hidup dan imannya terserah sajalah, umat tidak datang-datang ke gereja selama satu tahun, ya sudahlah. Yang penting saya makan dan minum. Menjadi pengingat bagi saya. Jangan-jangan saya pun sudah menjadi bagian dari orang Farisi.

 

Oleh karena itulah dalam teks yang kita baca Yesus memperbandingkan diri-Nya dengan orang-orang Farisi. Dalam teks yang kita baca Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai seorang Gembala. Dalam Perjanjian Lama, gambaran seorang gembala ini juga sering dipakai untuk menggambarkan kebaikan dari Tuhan itu sendiri.

 

Saya kurang tahu apakah ada di antara kita yang sudah pernah menjadi gembala domba atau tidak. Domba termasuk hewan yang tidak kritis, dungu, dan suka ikut-ikutan. Domba juga termasuk hewan yang tidak kuat sehingga ia rentan diterkam. Selain itu domba ini termasuk hewan yang mudah tersesat. Ia juga tidak dapat membela diri dalam pembantaian atau pengguntingan bulu domba. Domba juga termasuk hewan yang mudah puas. Ketika ia bertemu dengan sumber air, entah itu air bersih atau kotor, ia akan tetap meminumnya.

 

Dari kelemahan-kelemahan domba ini, kita bisa melihat, kalau domba ini berada di tangan orang yang salah, maka ia tidak akan selamat. Ia bisa dimangsa oleh hewan liar, atau ia bisa hilang jauh tersesat.  Oleh karenanya penting sekali bagi domba untuk tetap berada dalam pengawasan gembalanya. Ketika ia berada di tangan seorang gembala yang baik, maka domba akan bertumbuh, sehat, dan selamat.

 

Oleh karenanya Yesus katakan : bahwa Ia adalah Gembala yang baik, tidak seperti orang Farisi yang hanya mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia bukan seperti orang Farisi yang tidak peduli pada keselamatan domba/umatnya. Tapi Ia adalah gembala yang baik. Ia mengenal domba-dombaNya, dan domba-domba-Nya pun mengenal Dia. Kepedulian Yesus kepada kawanan dombaNya nampak ketika Ia memberikan diriNya mati di kayu salib demi keselamatan umat-Nya. Dan kepedulianNya terhadap umat Allah tidak hanya terbatas pada bangsa Yahudi saja, tapi pada seluruh manusia (ayat. 16). Maka kalau mau kelemahan kita tidak dipergunakan oleh orang lain untuk mengambil keuntungan bagi diri mereka sendiri, tetaplah berada dalam pengawasan gembala yang baik itu.

 

Tema Firman Tuhan bagi kita saat ini adalah Yesus Gembala yang Baik.

 

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita agar kita perlu jeli dalam mendengarkan suara Gembala itu sendiri. Ketika saya berbicara tentang Gembala, ini bukan merujuk pada saya. Di hadapan Tuhan, saya dan bapak/ibu adalah domba-domba-Nya Allah. Oleh karenanya, baik saya dan bapak/ibu penting untuk mendengarkan suara dari Tuhan Yesus itu sendiri, sebagai gembala sejati bagi kita. Bagaimana cara mendengarkan suara Gembala itu? Melalui FirmanNya yang tertulis dalam Alkitab. Firman Tuhan itulah yang menuntun kita agar kita tidak tersesat. Firman Tuhan itulah yang menuntun kita untuk mendapatkan sukacita yang sejati.

 

Orang Kristen yang yang tidak memberikan telinganya pada firman Tuhan, akan mudah jauh dari Tuhan itu sendiri. Dan kehidupan kita sama seperti domba, ketika kita jauh dari gembala kita, maka akan ada pencuri yang tujuannya hanya membinasakan kita (Yoh. 10:10). Hari Jumat kemarin kita merenungkan firman Tuhan bagaimana kuasa si Iblis yang senantiasa bekerja untuk menyesatkan kita bahkan sampai saat ini. Dan hari ini diingatkan, kalau kita tidak memberi telinga pada suara Tuhan, kalau kita tidak memberi hati dipimpin oleh Tuhan, kalau kita tidak memberi diri kita dituntun oleh Tuhan, maka si Iblis sendiri yang akan mengambil kita, menuntun kita, dan membinasakan kita.

 

Jadi sekarang tinggal pilih, mau dituntun oleh Tuhan yang akan membawa kita pada kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan atau dituntun oleh si Iblis yang akan membawa kita pada kebinasaan. Biarlah kita merenungkannya dalam hati kita masing-masing.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rancangan Khotbah | Efesus 4:25-32

Rancangan Khotbah - Yeremia 31:10-14

Rancangan Khotbah Yesaya 62:1-5