Rancangan Khotbah | Kisah Para Rasul 2:1-13

Selamat Hari Pentakosta!

Kita bersyukur jika hari ini kita bisa berkumpul dan merayakan Hari Pentakosta. Pentakosta adalah hari tercurahnya Roh Kudus kepada murid-murid zaman dulu. Sebagaimana yang saya sampaikan pada hari Jumat kemarin bahwa Pentakosta dulunya merupakan hari raya orang Israel/Yahudi. Pada hari Pentakosta, orang-orang Israel atau Yahudi berkumpul untuk merayakan hari ucapan syukur atas hasil panen gandum yang mereka terima. Tapi ketika Roh Kudus turun tepat pada hari Pentakosta itu, murid-murid Yesus hingga kita saat ini tidak lagi memaknai Pentakosta sebagai ucapan syukur atas hasil panen gandum, melainkan ucapan syukur atas turunnya berkat rohani, yaitu Roh Kudus- pada kita.

Teks Firman Tuhan saat ini mengisahkan kepada kita bagaimana peristiwa turunnya Roh Kudus itu terjadi. Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid kembali berkumpul di Yerusalem. Mereka menuruti perintah Yesus untuk tetap berada di Yerusalem sebelum mereka diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus (Kis. 1:4; Luk. 24:49). Lihatlah betapa murid-murid mau taat menerima aturan yang diberikan oleh Yesus! Mereka menyadari bahwa pekerjaan untuk Tuhan tidak dapat dilakukan hanya dengan modal nekat saja. Orang yang mau memberi diri untuk pekerjaan Tuhan harus diperlengkapi dengan kuasa dari Tuhan itu sendiri. Kalau tidak diperlengkapi kuasa Roh Kudus, orang yang ingin melayani bisa saja akan bertindak gegabah dalam pekerjaan yang dilakukannya untuk Tuhan.

Tertulis pada ayat 1-2, ketika semua orang percaya berkumpul di hari Pentakosta, tiba-tiba turunlah suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi rumah di mana mereka sedang berkumpul. Tiupan angin keras itu juga diikuti dengan adanya lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lidah api ini sering dipakai menjadi salah satu simbol dari Roh Kudus. Kalau kita ingat peristiwa pembaptisan Yesus, Roh Kudus juga hadir padaNya namun dalam bentuk burung merpati. Lidah-lidah api dalam teks ini menunjukkan fungsi Roh Kudus yang akan menguduskan/memperbaharui tiap-tiap orang percaya, sebagaimana kita tahu salah satu fungsi dari api adalah memurnikan/menguduskan.

Sekalipun lidah-lidah api ini merupakan penglihatan yang hanya dilihat murid-murid pada saat itu, tapi ada satu tanda yang dapat dilihat dan disaksikan oleh orang banyak atas turunnya Roh Kudus di dalam diri murid-murid pada saat itu. Pada ayat 6, ketika bunyi yang sangat keras itu terjadi, orang-orang banyak berkerumun dan mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dengan bahasa mereka sendiri. Tercatat bahwa ada berbagai banyak bahasa yang digunakan oleh murid-murid pada saat itu. Pada ayat 9-11 dikatakan bahwa murid-murid yang kebanyakan orang Galilea itu, tiba-tiba bisa berkata-kata dalam banyak bahasa seperti bahasa Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Arab dan lain sebagainya. Sekalipun bahasanya beragam, tapi inti dari sesuatu yang disampaikan oleh murid-murid pada saat itu adalah perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Dengan demikian, orang-orang yang berkumpul yang datang dari berbagai daerah pada saat itu dapat mendengar hal-hal hebat tentang Tuhan itu sendiri, meskipun beberapa di antara orang-orang pada saat itu justru mencela apa yang terjadi pada murid-murid.

Bapak/Ibu/Saudara, apa yang terjadi pada murid-murid pada akhirnya mengingatkan kita bahwa Roh Kudus akan selalu menemukan banyak cara untuk menolong kita dalam bersaksi tentang Yesus. Pekerjaan-pekerjaan Roh Kudus adalah pekerjaan yang dapat melewati batas-batas yang tidak dapat dilewati oleh manusia. Murid-murid Yesus terbiasa berbahasa Aram dan bukan orang-orang berpendidikan, tapi ketika mereka diperlengkapi oleh Roh Kudus, mereka dapat menjangkau orang lebih banyak lagi. Dan ini hanya permulaan pekerjaan dari kuasa Roh Kudus itu. Setelah Roh Kudus berdiam di dalam diri murid-murid, murid-murid semakin percaya diri dan berani lagi dalam bersaksi memberitakan Injil. Mereka tidak ketakutan ketika menghadapi tantangan. Mereka juga berhikmat ketika diminta pertanggungjawaban iman. Oleh karena kuasa Roh Kudus itulah, Injil juga bisa tersampaikan pada kita. Kuasa Roh Kudus mampu melewati batas-batas kemampuan manusia, sehingga berita Injil tidak hanya didengar di Yerusalem saja, melainkan juga sampai ke ujung bumi.

Tema Firman Tuhan bagi kita saat ini adalah Kuasa Roh Kudus yang Mempersekutukan.

Persekutuan adalah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari gereja. Sejak gereja mula-mula didirikan, orang-orang percaya selalu bersekutu. Bersekutu artinya berkumpul karena satu pandangan dan satu tujuan. Hingga saat ini, jumlah orang percaya sudah sangat banyak, melintasi benua, ras, daerah, adat istiadat, kebiasaan, dan lain sebagainya. Yang hadir di dalamnya juga beragam, entah profesinya, usianya, karakternya, dan sifatnya. Tapi sebagaimana kisah dalam teks yang kita baca tadi, orang-orang dari berbagai tempat ini berkumpul dan terikat menjadi satu Gereja karena telah mendengarkan perbuatan-perbuatan hebat Allah. Tidak ada hal lain yang menjadi dasar mengapa orang-orang mau berhimpun menjadi bagian dari Gereja, selain dari telah mendengar perbuatan-perbuatan hebat Tuhan. Kalau ada suatu gereja yang berdiri tanpa mendengar dan percaya pada perbuatan-perbuatan hebat Tuhan, hakikatnya itu bukanlah gereja. Seseorang harusnya mau menjadi bagian dari gereja kalau ia sendiri menyadari bahwa ia telah percaya pada perbuatan hebat Tuhan. Dan sebaliknya, ketika kita memanggil sesama untuk menjadi bagian dari gereja, hal-hal yang disampaikan bukanlah tentang kehebatan orang-orang di dalam gerejanya, melainkan perbuatan-perbuatan besar Allah itu sendiri. Mengapa hal ini menjadi begitu penting?

Gereja yang dibangun tanpa memahami karya Allah pada akhirnya mengurangi bahkan meniadakan kasih karunia Tuhan dan meniadakan kuasa Tuhan. Kalau gereja terdiri dari orang-orang yang diikat hanya karena persaudaraan, maka itu bukan gereja, melainkan STM atau persekutuan marga. Kalau gereja terdiri dari orang-orang yang diikat hanya karena ingin dilihat orang lebih maju dari yang lain, maka itu bukan gereja, melainkan menara babel. Kalau gereja terdiri dari orang-orang yang diikat hanya karena punya kesukaan yang sama, maka itu bukan gereja, melainkan klub.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rancangan Khotbah | Efesus 4:25-32

Rancangan Khotbah - Yeremia 31:10-14

Rancangan Khotbah Yesaya 62:1-5