Rancangan Khotbah | Mazmur 1:1-6
Bapak/Ibu/Saudara, kalau disuruh : angkat tangan siapa yang ingin hidupnya bahagia, saya kira kita semua akan mengangkat tangan kita. Bahagia adalah perasaan yang senang, tentram, tenang, atau puas. Perasaan bahagia ini adalah perasaan yang dicari-cari oleh orang di dunia ini. Biasanya kalau ada orang yang jarang merasakan kebahagiaan, dia akan bertanya-tanya : kapan ya aku bisa merasakan kebahagiaan?
Pemahaman orang tentang sumber kebahagiaan itu sendiri berbeda-beda. Kalau ditanya kepada anak-anak kecil apa yang membuat mereka bahagia; diberi jajan atau dibelikan tas baru mungkin jawaban utamanya. Kalau ditanya kepada anak-anak remaja dan pemuda apa yang membuat mereka bahagia; bisa nongkrong atau dapat prestasi adalah jawaban utamanya. Kalau ditanya kepada orangtua apa yang membuat mereka bahagia; menang arisan, gaji cair, token listrik penuh, itu adalah kunci bahagianya. Bisa dikatakan akan ada beragam jawaban yang diberikan oleh masing-masing orang ketika kita bertanya : apa yang membuatmu bahagia?
Tapi menarik sekali, dalam Mazmur 1:1-6 yang baru kita baca tadi justru mengungkapkan kepada kita bahwa kebahagiaan pertama-tama bukan terletak pada apa yang kita miliki. Bukan pertama-tama terletak pada apa yang kita dapat. Kebahagiaan justru terletak ketika kita mau mencari tahu dan mau melakukan kehendak Tuhan. Dalam Mazmur 1, tertulis bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang mau melakukan Firman Tuhan.
Saya tidak tahu apakah kita setuju dengan pernyataan si pemazmur ini atau kita memiliki pandangan yang berbeda dengan si pemazmur ini. Sebab kalau kita pikir-pikir : siapa orang yang akan berbahagia ketika melakukan Firman Tuhan? Bukankah selama ini orang yang melakukan kehendak Tuhan justru mengalami banyak musibah? Harus mengorbankan dirinya, mengorbankan hartanya, mengorbankan perasaannya, mengorbankan pergaulannya.. Lalu dimana letak kebahagiaan orang-orang yang mau mengikut perintah Tuhan?
Kebahagiaan yang disampaikan dalam Mazmur 1 sama seperti orang yang hendak membeli rumah. Kalau kita disuruh memilih, jenis rumah seperti apa yang akan kita pilih, saya kira kita semua punya jawaban yang beragam. Ada yang tertarik dengan warna catnya. Ada yang memilih berdasarkan tingginya. Ada yang memilih berdasarkan model atapnya. Itu semua adalah pilihan itu masing-masing. Tapi hal terpenting yang utama sebenarnya bukan persoalan warna cat, berapa tingginya, atau jenis atapnya. Hal terpenting pertama-tama ketika membangun atau menempati rumah adalah memastikan bahwa fondasi rumah itu benar-benar kokoh. Kalau fondasi rumahnya tidak kokoh, atapnya bisa menghancurkan kita; tingginya rumah bisa mencelakakan kita, cat rumah yang mewah tidak akan menyelamatkan kita.
Kebahagiaan orang yang melakukan firman Tuhan pun demikian. Orang yang melakukan kehendak Tuhan dalam hidupnya akan memiliki fondasi kehidupan yang kokoh, sehingga apapun yang dibangun di atasnya tidak akan menjatuhkan atau merobohkannya. Kalau fondasi kehidupan kita ini tidak kokoh, maka semua yang kita capai justru dapat membuat kita jatuh dan ambruk. Dan itulah yang disampaikan dalam Mazmur 1. Firman Tuhan akan membuat orang-orang yang menaatinya memiliki kehidupan kita yang tetap kuat sekalipun berada di tengah-tengah tantangan di dunia ini.
Dalam Mazmur ini disebutkan ada dua kategori orang yang sangat berbeda dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Ada orang yang menjadikan Firman Tuhan sebagai pegangan hidupnya dan ada pula yang menjadikan hikmat manusia sebagai pegangan hidupnya.
Hikmat manusia adalah hikmat atau cara berpikir orang yang mengandalkan dirinya. Ia bisa ditemukan pada orang-orang yang fasik, orang-orang yang suka melakukan dosa, dan orang-orang yang suka mencemooh. Dalam Alkitab sendiri, terdapat banyak contoh orang-orang yang suka mencari pengertian berdasarkan hikmat manusia. Rehabeam, anak dari Raja Salomo, ketika memerintah, tidak mengikuti nasehat para tua-tua, tapi justru mengikuti saran dari teman-teman sebayanya, yang sangat bertentangan dengan Firman Tuhan. Mengapa Rehabeam dan "kadang-kadang" kita lebih suka mengikuti hikmat dunia dan pengertian dari kita ketimbang melakukan Firman Tuhan itu sendiri? Karena Firman Tuhan memang berbanding terbalik dengan keinginan daging kita. Firman Tuhan menyuruh kita untuk menekan keinginan manusia kita. Makanya kalau disuruh memilih mana yang lebih gampang : berdamai atau tidak usah ngomong sampai seumur hidup, jawabannya pasti lebih gampang dan enak tidak usah berdamai. Tidak usah ngomong-ngomong. Kalau disuruh memilih mana yang lebih gampang : bersabar atau jadi barbar, jawabannya enakan barbar-lah. Sabar itu sakit! Kalau disuruh memilih lebih gampang menjaga kekudusan atau langgar aturan, semua pasti sepakat kalau melanggar aturan lebih gampang, bahkan lebih asyik dan seru! Wkwk.
Tapi sekalipun demikian, hukum-hukum Tuhan, perintah atau Firman Tuhan ini ternyata punya kekuatan untuk membuat kita lebih kuat. Pada ayat yang 3 disebutkan bahwa orang yang mau bersandar pada Firman Tuhan akan sama seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air.
Tanah di Israel itu tidak sama seperti tanah kita yang subur. Tidak semua tanah di Israel dapat membantu pertumbuhan tanaman dengan baik. Umumnya tanah di Israel sifatnya kering dan kadang sangat tandus. Hanya semak belukar sajalah yang hidup di padang tandus. Berbeda dengan tanah yang dekat dengan sumber air, tanah ini sudah pasti dapat menolong pertumbuhan tanaman di sekitarnya. Pada ayat 3 tertulis bahwa pohon ini ditanam di tepi aliran air. Sudah pasti pohon ini memiliki sumber makanan yang cukup untuk pertumbuhannya. Ia tidak akan takut kehabisan air dan zat hara karena tempat ia berpijak menyediakan makanan yang cukup baginya senantiasa. Pada akhirnya, pohon ini mengalami pertumbuhan yang sehat. Ia menghasilkan buah pada musimnya dan fungsinya sebagai pohon (entah itu sekedar tempat berteduh atau dijadikan sebagai bahan bangunan) tercapai. Dan hal-hal besar yang diperolehnya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari topangan energi dimana ia ditanam.
Dan orang yang rindu mencari melakukan apa yang Tuhan mau pun demikian. Ia akan tetap bertahan walau banyak tantangan yang dialaminya. Ia akan tetap bisa menghasilkan sukacita walau banyak musim di hidupnya. Ia akan tetap bisa berguna, walau ada berbagai macam peristiwa-peristiwa di dalam hidupnya. Kekuatannya cukup untuk melewati itu semua.
Dari sini bisa kita lihat, bahwa tujuan dari kehidupan kita yang sesungguhnya adalah bagaimana kehidupan kita bisa berjalan sebagaimana mestinya. Hal-hal seperti kelimpahan dan kemewahan itu hanya pemanis saja. Asal bisa terus bertumbuh dalam segala keadaan, cukuplah semuanya itu. Dan itu hanya diperoleh ketika kita hidup dalam Firman Tuhan!
Jauh berbeda dengan orang fasik. Tertulis pada ayat 4 bahwa orang fasik itu seperti sekam, yang tidak ada bedanya dengan debu, sedikit saja angin menerpa ia sudah terbang hilang entah kemana. Sedikit saja kesulitan dihadapkan kepada orang yang mengandalkan pengertiannya sendiri, ia akan langsung jatuh berantakan. Karena apa? Kekuatannya untuk menghadapi kesulitan dan tantangan itu tidak ada.
Bapak/Ibu/Saudara mungkin masih ingat dengan banyak peristiwa yang pernah saya sampaikan sebelumnya. Bagaimana banyak orang yang dalam kesulitan ekonomi, dalam tubuh yang kesakitan, dalam keluarga yang berantakan, karena pegangan hidupnya tak kokoh, mudah sekali gelap hati dan pikirannya. Tindakannya tidak karuan lagi, lalu jatuhlah kehidupannya. Apa yang ia cari dan bangun selama ini ternyata tidak dapat menolongnya.
Begitulah
kehidupan orang yang tidak mengandalkan Tuhan. Ia sangat mudah rapuh
ketika mengalami tantangan. Bayangkan ketika ia berada dalam penghakiman di hadapan Tuhan! Ia tidak punya kekuatan apa-apa. Segala sesuatu yang ia cari dan miliki selama ini ternyata tidak dapat menolongnya.
Saya kira Firman Tuhan hari ini sangat perlu untuk mengingatkan kita. Ada banyak hal yang kita cari selama kita di dalam dunia ini; ada di antara kita yang mati-matian mengejar prestasi; ada yang mati-matian mengejar harta; ada yang mati-matian mengejar jabatan; ada yang mati-matian mengejar proyek dan target serta kesuksesan; dan lain sebagainya. Silahkan dicari! Tapi ingat, tanpa dasar yang kuat, semua hal yang kita cari dan kita punya justru dapat menjadi petaka bagi kita sendiri. Kalau segala sesuatu tidak dibangun dalam Firman Tuhan, apa yang kita cari dan timbun, justru akan berbalik menghancurkan kita sendiri.
Matius 6:33 berkata : Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Kelimpahan di dalam dunia ini hanya "pemanis" saja. Asal bisa bertumbuh, berbuah, dan berguna, sudah cukuplah semuanya itu.
Diberkatilah mereka yang hidupnya mau dituntun oleh Tuhan!
Komentar
Posting Komentar