Rancangan Khotbah | Amsal 9:1-6
Banyak orang mengatakan bahwa hidup ini adalah pilihan. Dan memang benar bahwa hidup ini adalah pilihan. Hampir setiap hari kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Mau makan apa hari ini, mau pakai apa hari ini, mau tidur jam berapa hari ini, dan lain sebagainya. Setiap pilihan yang kita ambil tentu memiliki dampak atau resikonya masing-masing. Bahkan ketika kita tidak memilih pun, ada dampak atau resiko yang kita peroleh.
Tapi pernahkah Bapak/Ibu menyesal dengan keputusan atau pilihan yang Bapak/Ibu pernah ambil? Pernahkah Bapak/Ibu merasa bersalah karena satu keputusan yang Bapak/Ibu pernah ambil?
Saat ini banyak orang yang menyesali keputusan atau pilihan-pilihan yang mereka ambil sebelumnya. Semula mereka menganggap baik keputusan itu, ternyata setelah dijalani, keputusan tersebut malah membuat sesuatu hal yang menyakitkan dalam diri mereka. Oleh karenanya, penting sekali bagi kita untuk menimbang-nimbang sesuatu keputusan atau pilihan sebelum kita memutuskannya.
Hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan, bagaimana kita mau dituntun oleh hikmat dari Tuhan.
Tema Firman Tuhan pada saat ini adalah Membuang Kebodohan dan Mengikuti Jalan Pengertian.
Dalam Alkitab, orang yang berhikmat adalah orang yang mengerti kehendak Tuhan (Ef. 5:17). Mereka dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat (1 Raja 3:9); dan dapat memutuskan hukum sesuai kehendak Tuhan(1 Raja 3:11). Kalau kita mengikuti pembacaan pertama tadi, disebutkan bahwa Salomo meminta hikmat dari Tuhan agar ia dapat memimpin bangsa Israel sesuai dengan kehendak Tuhan. Singkatnya, orang yang berhikmat adalah orang yang mau melakukan kehendak Tuhan.
Lalu menurut Bapak/Ibu, bagaimana cara agar orang bisa berhikmat? Apakah hikmat ini bisa didapat dari pendidikan tinggi? Apakah hikmat ini diturunkan dari orangtua? Atau apakah hikmat ini akan muncul seiring dengan bertambahnya usia?
Faktor-faktor dari luar ini memang dapat mempengaruhi diri kita, tapi tidak terlalu berpengaruh pada hikmat kita. Sebab ada juga orang yang berpendidikan tinggi, tapi masih kurang berhikmat; ia tidak tahu cara menghargai orangtua. Ada juga orang yang sudah berusia tua, tapi juga masih kurang berhikmat, kerjanya hanya mengacaukan persaudaraan. Ada juga orang yang bekerja sebagai pendeta, tapi terlihat kurang berhikmat; tidak mampu dan tidak mau menjadi garam dan terang di lingkungan sekelilingnya. Dari pengalaman-pengalaman ini, bisalah kita katakan bahwa orang yang berpendidikan tinggi; orang yang berusia lanjut; orang yang berstatus dalam masyarakat; belum tentu berhikmat. Mengapa demikian? Sebab hikmat tidak bersumber dari semua itu, melainkan bersumber dari Allah. Dalam Amsal 2:6 tertulis : Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Orang yang mau memiliki hikmat, harus memintanya dari Tuhan.
Teks firman Tuhan hari ini berbicara tentang undangan untuk memiliki hikmat kepada semua orang. Dalam teks ini digambarkan bahwa hikmat sama seperti tuan rumah yang bersiap menerima orang-orang untuk datang ke dalam rumahnya. Rumah dengan tujuh tiang menjadi simbol kekokohan dan simbol kekayaan dari tuan rumah (hikmat) itu sendiri. Ternak sembelihan, anggur, dan hidangan menjadi tanda bahwa ada berkat-berkat yang akan memuaskan orang-orang yang datang mencari hikmat tersebut.
Menariknya, undangan untuk dapat menikmati berkat-berkat dari hikmat ini berlaku untuk semua orang. Pelayan-pelayan yang berseru-seru di tempat-tempat yang tinggi di kota menjadi tanda bahwa undangan hikmat ini bukanlah sesuatu yang disembunyikan sehingga orang-orang tidak dapat memilikinya. Hikmat diberikan kepada semua orang terlebih kepada mereka yang menyadari bahwa mereka tidak berpengalaman dan tidak berakal budi.
Kalau Bapak/Ibu ditawari undangan seperti ini apakah mau menerimanya?
Sayangnya banyak orang menolak undangan ini. Karena yang diajari adalah orang yang kurang berakal budi. Apakah kita kurang berakal budi? Kurang berpengalamankah kita?
Inilah kunci untuk bisa berhikmat. Orang-orang harus menyadari kekurangannya dan kelemahannya di hadapan Tuhan. Kalau kita tidak menyadari, untuk apa minta tuntunan Tuhan. Sayangnya orang sulit mengakui kelemahannya di hadapan Tuhan. Merasa diri mampu tanpa Tuhan, pada akhirnya tidak pernah meminta pertolongan dan tuntunan Tuhan. Jadi orang yang tidak mau berdoa, bukan mereka yang merasa tidak layak karena dosa. Justru mereka merasa lebih dari Tuhan dan tidak memerlukan Tuhan.
Salomo berkata : Tuhan telah pilih aku yang tidak berpengalaman. Kalau seorang raja mengakui kelemahannya, bukankah kita harus lebih lagi mengakuinya?
Apa yang bisa kita ambil dari teks firman Tuhan hari ini?
- Allah memberikan hikmatNya kepada semua orang yang memintanya. Kadang kita menganggap bahwa Tuhan itu pilih kasih. Bukan pilih kasih. Kita yang tidak mau datang dan memohon.
- Kadang kita bilang Roh Kudus tidak bekerja. Sudah bekerja. Tapi kita yang menolak untuk mengikuti kerja Roh Kudus.
- Kadang kita bilang kalau Allah tak mau tuntun. Dituntun kita protes pada tuntunan Allah
- Akhirnya kita ambil jalan kita, dan menyesal kemudian hari.
Hidup ini pilihan. Kalau kita sudah merasa capek atau lelah dengan keadaan, pilihan kita. Mau berbalik dipuaskan oleh Tuhan atau berkutat pada kebingungan kita sendiri,
Apakah mau tetap hidup dalam kemarahan dan dendam atau dipulihkan dan diampuni,
Apakah mau tetap hidup dalam kemalasan yang membuat kita semakin berantakan atau mau satu persatu ditolong Tuhan mengembalikan seperti semula?
Semua itu pilihan kita.
Undangan hikmat telah diberi. Keputusan Bapak/Ibu mau ikut datang atau tidak.
Komentar
Posting Komentar