Rancangan Khotbah Natal | Matius 1:18-25
.. Jadi kalau selama ini ada niat ingin mundur dalam pelayanan atau pekerjaan Tuhan karena merasa rugi, ya perlulah belajar dari Yusuf. Tidak selamanya upah dari Tuhan dihitung dari kekayaan, jabatan, dan kekuasaan. Sampai akhir hidupnya Yusuf tetap dikenal sebagai seorang tukang kayu. Tapi sampai saat ini Alkitab pun tetap menyaksikannya sebagai seorang yang tulus hatinya. Sampai saat ini...
Selamat Hari Natal!
Secara naluri, manusia umumnya akan lebih mencari apa hal yang menguntungkan dirinya. Kalau kita disuruh memilih, mau untung atau rugi, saya kira tidak hanya pedagang saja yang mau untung. Tidak hanya pebisnis saja yang mau mencari keuntungan. Semua kita pasti akan memikirkan apa yang menjadi keuntungan bagi diri kita sendiri. Semua kita pasti akan mencari apa yang menjadi keuntungan bagi kita.
Nah kalau bicara tentang Natal, apakah Natal berbicara tentang keuntungan atau kerugian?
Di satu sisi, Natal memang berbicara tentang keuntungan, keuntungan seluruh umat manusia telah mendapatkan keselamatan dari Tuhan. Ada sukacita besar yang kita rasakan.
Tapi di sisi lain, ketika Natal itu terjadi, ada juga pihak-pihak yang juga dirugikan. Yang pertama kali mengalami kerugian dalam Natal ini adalah keluarga Yesus itu sendiri, ayah-ibunya, Yusuf dan Maria.
Kalau sebelum-sebelumnya kita tahu bahwa Maria punya beban sosial yang berat ketika harus mengandung Yesus sebelum dia menikah dengan Yusuf, maka Yusuf pun sebaliknya demikian. Ada rasa dilema yang dihadapi ketika mendengar bahwa tunangannya telah hamil di luar pernikahan mereka.
Pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral sekali. Ketika Yusuf mendengar bahwa Maria mengandung seorang anak di luar pernikahan mereka, ya secara manusia dia tentu kecewa. Ini ibaratnya, mohon maaf, Yusuf harus "ambil perempuan bekas orang". Kehamilan Maria bisa saja dianggapnya sebagai bentuk ketidaksetiaan Maria terhadap Yusuf. Oleh karena itulah pada ayat 19 dikatakan bahwa Yusuf pun bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam.
Tapi ketika mempertimbangkan niatnya itu, malaikat Tuhan nampak dalam mimpinya. Disampaikan dalam ayat-ayat sesudahnya bahwa malaikat itu menjelaskan kepada Yusuf mengapa keadaan bisa seperti demikian. Apa yang terjadi pada Maria bukanlah kehendak Maria sendiri, melainkan terjadi atas dasar rencana Tuhan itu sendiri. Tuhan ingin menyelamatkan umat-Nya. Dari kandungan Maria itulah firman Tuhan itu akan digenapi. Ketika mendengar penjelasan dari malaikat itu, Yusuf pun melakukan tepat seperti yang diperintahkan oleh malaikat itu. Ia memutuskan untuk tetap mengambil Maria menjadi istrinya dan dikatakan pada ayat 19 : tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.
Dari cerita ini kita tidak menemukan pertentangan dari Yusuf ketika malaikat itu memberi pengertian kepadanya. Kita tidak tahu apakah aslinya dia menolak atau tidak, tapi dari teks ini kita tahu bahwa Yusuf berupaya untuk lebih memahami kehendak Tuhan. Sekalipun berat, tapi ia pun lebih memilih untuk mendukung rencana Tuhan. Sekalipun sebenarnya ia mengalami kerugian atas apa yang terjadi pada tunangannya, tapi ia memilih untuk tetap ikut menggenapi pekerjaan-pekerjaan Tuhan itu.
Jadi, di balik sukacita yang diterima oleh manusia pada saat ini, sebenarnya ada dua tokoh yang paling dirugikan. Yusuf dan Maria telah mengalami kerugian besar itu.
Saya kira, Yusuf dan Maria adalah satu pasangan yang harusnya jadi teladan bagi umat Kristen saat ini. Bagaimana masing-masing anggota keluarga, antara orangtua dan anak, antara suami dan istri sama-sama mendukung pekerjaan Tuhan. Sama-sama berbesar hati untuk mau rugi demi pekerjaan Tuhan.
Saat ini banyak orang giat melayani Tuhan tapi dengan harapan bisa mendapat sesuatu yang lebih besar lagi dalam hidupnya. Banyak orang giat melayani Tuhan tapi dengan harapan agar bisa terbekati lagi hidupnya. Banyak orang giat memberi untuk rumah Tuhan tapi dengan harapan keinginannya bisa terpenuhi. Saya kira kita perlu belajar untuk mengesampingkan itu semua dulu.
Ketika Yusuf mau mengikuti rencana Allah, ia tidak menjadi seorang yang kaya. Ketika Yusuf mau mendukung pekerjaan Allah, ia tidak segera dipilih menjadi raja. Sampai akhir hidupnya, Yusuf hanya kita kenal sebagai seorang tukang kayu. Tidak ada kelimpahan yang diperolehnya ketika ia mengorbankan kehidupannya untuk rencana Tuhan. Tidak ada kekuasaan yang diperolehnya ketika ia mengorbankan kehidupannya untuk rencana Tuhan. Ia tetap hidup dalam kesederhanaan sepanjang hidupnya.
Bapak/ibu yang sudah terlibat dalam pelayanan gereja, entah itu sebagai SNK, entah itu sebagai pemusik, entah itu bantu-bantu bersih-bersih gereja, entah itu yang terlibat dalam kepanitiaan, apakah Bapak/Ibu juga sudah menjadi kaya karena pelayanan-pelayanan yang Bapak/Ibu lakukan? Kalau dihitung-hitung, berapa kekayaan yang Bapak/Ibu peroleh dari pelayanan itu? Saya kira tidak ada. Malah kalau diizinkan jujur, justru emosi kita terkuras, tenaga kita terkuras, pikiran kita terkuras, isi dompet kita pun terkuras.
Bapak/Ibu Panitia Natal yang sudah dilantik kemarin, apakah sudah menjadi orang yang dipuja-puja setelah mengerjakan tugas tanggung jawabnya? Saya kira tidak. Malah Bapak/Ibu Panitia harus siap-siap untuk capek, siap-siap untuk dikritik, siap-siap untuk disuruh-suruh, siap-siap kena marah, siap-siap berkorban, siap-siap semuanya.
Jadi kalau dihitung untung ruginya, justru amat besar kerugian orang yang mau terlibat dalam pelayanan bersama Tuhan. Amat besar kerugian orang yang mau terlibat dalam pekerjaan Tuhan.
Tapi belajar dari Yusuf, sekalipun dia tahu dia mengalami kerugian, tapi ia tahu bahwa pekerjaan Tuhan lebih berharga dari egonya. Dia tahu pekerjaan Tuhan lebih besar dari dirinya. Dia tahu pekerjaan Tuhan lebih mulia dari dirinya. Seperti Yohanes katakan : Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30). Pekerjaan Tuhan harus tetap dikerjakan, sekalipun aku pun harus semakin dikecilkan, sekalipun aku pun harus semakin dikucilkan.
Jadi kalau selama ini ada niat ingin mundur dalam pelayanan atau pekerjaan Tuhan karena merasa rugi, ya perlulah belajar dari Yusuf. Tidak selamanya upah dari Tuhan dihitung dari kekayaan, jabatan, dan kekuasaan. Sampai akhir hidupnya Yusuf tetap dikenal sebagai seorang tukang kayu, tapi Alkitab tetap menyaksikannya sebagai seorang yang tulus hatinya, sampai saat ini.
Komentar
Posting Komentar