Rancangan Khotbah | Markus 7:24-37
Asal setiap orang mau datang pada Yesus, maka ia akan dapatkan apa yang ia perlukan.
Tentu bukan rahasia umum lagi kalau setiap umat manusia pasti memiliki banyak tantangan dalam kehidupannya. Setiap hari kita berkeluh kesah menghadapi berbagai persoalan; dari persoalan yang ringan sampai persoalan yang rumit. Ada orang yang berkeluh kesah tentang sakit-penyakit dalam tubuh mereka; ada orang yang kadang menangis karena kehidupan rumah tangganya; ada orang yang kadang mau mengakhiri hidup karena ekonomi yang buruk; ada orang yang kadang stress karena banyak hal yang belum dicapai dalam kehidupan mereka; dan ada juga orang yang merasa depresi dan bingung melihat kehidupan mereka yang begitu kelam. Setiap orang memiliki persoalan dan pergumulan dalam kehidupan mereka.
Lalu ketika persoalan dan tantangan hadir dalam kehidupan, apa yang Bapak/Ibu akan lakukan? Ketika pergumulan dan kesulitan hadir dalam kehidupan, apa yang akan Bapak/Ibu perbuat?
Saat ini, ada banyak sekali cara-cara orang ketika menghadapi pergumulan dalam hidupnya.
Ada orang ketika sedang bergumul berbeban berat, cari pelarian dalam hidupnya; raung-raung tujuh kali putaran; jalan-jalan kemana-mana; nyanyi-nyanyi meluapkan emosi sampai 7 jam; makan sepuasnya; dan lain sebagainya.
Ada orang ketika sedang bergumul, ia akan pendam sendiri; menangis dalam kamar, tidak mau makan, tidak mau keluar, tidur saja dalam kamar, dan lain sebagainya.
Ada orang ketika sedang bergumul, ia akan cari perhatian dari orang lain; upload status di fb : tidak ada yang peduli! Beban ini berat ya, Tuhan! Dan lain sebagainya
Dan ada orang yang ketika bergumul, ia akan cari sahabat; keluarganya; orang terdekatnya dan cerita semua keluh kesah dalam hidupnya.
Apakah hal-hal yang kita lakukan ini salah? Tentu tidak salah. Selagi masih dalam level normal, apa yang saya sebutkan tadi tidak menjadi satu persoalan. Tapi pertanyaannya adalah dengan melakukan hal-hal tadi, pergumulan dan persoalan kita selesai? Tentu saja hal-hal yang kita lakukan tadi memberikan ketenangan dalam diri kita. Sayangnya, hal-hal yang kita kerjakan tersebut tidak serta merta menolong kita dalam mengatasi persoalan yang kita hadapi. Persoalan dan tantangan hidup tetap ada!
Oleh karenanya, ketika persoalan datang dalam hidup kita, kita tidak boleh berhenti hanya di level mencari penghiburan dalam dunia ini saja. Persoalan-persoalan yang kita hadapi harusnya membuat kita giat mencari Tuhan dan meminta pertolongan dari Tuhan. Minggu yang lalu kita diingatkan bahwa sebab hanya di dalam Tuhanlah ada kuasa yang sejati; Walau ada banyak pertolongan-pertolongan yang menarik hati kita, tapi sumber kekuasaan sejati itu berasal dari Tuhan.
Oleh karenanya, ketika beban dan pergumulan hidup datang dalam diri kita, jangan anggap ada jalan terbaik lain; pertama-tama carilah Tuhan itu!
Inilah pesan yang disampaikan dalam teks firman Tuhan yang baru kita baca tadi. Tertulis bahwa pada saat itu Yesus pergi ke daerah Tirus dan Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya. Nah, kalau kita membaca teks sebelumnya, tertulis di situ bahwa sebelum ke Tirus, Yesus telah berhadapan dengan orang Farisi dan berdebat masalah najis atau tidak najis kepada Yesus. Ternyata perdebatan ini mengharuskan Yesus untuk menenangkan diriNya. Ini bukan pertama kali Yesus menghindar untuk menenangkan dan memulihkan diriNya. Ayat-ayat sebelumnya menuliskan bahwa Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Teks ini pada akhirnya menjadi satu tanda bahwa Yesus memang benar-benar manusia. Ia juga bisa merasa letih dan perlu dipulihkan. Dan pemulihan diriNya tidak dicari dimana-mana, melainkan dalam doa kepada Bapa.
Tapi ketika hendak menenangkan diriNya, ternyata ada seorang perempuan Siro Fenesia yang datang kepada Yesus untuk mengusir setan dari tubuh anaknya. Ternyata kabar tentang kuasa Yesus tidak hanya terdengar di daerah Yerusalem saja. Orang-orang yang bukan Israel pun mendengar kuasa Yesus. Itulah yang membuat perempuan ini datang kepada Yesus. Padahal, sebagaimana khotbah minggu lalu, bangsa Siro Fenesia (dulunya orang Kanaan) punya dewa yang mereka sembah dan mereka yakini dapat menyembuhkan. Tapi pengetahuan dan pengalaman perempuan ini membuatnya datang yakin memohon kepada Yesus.
Tapi ada yang menarik dalam percakapan antara Yesus dengan perempuan Kanaan ini. Kalau dalam kisah-kisah penyembuhan yang lain, kita mengenal sosok Yesus yang begitu lemah lembut dan mau menyembuhkan orang, dalam teks cerita hari ini justru digambarkan bagaimana Yesus seolah-olah menutup anugerahNya kepada perempuan Kanaan tersebut. Pada ayat 27 tertulis : Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Perkataan ini terdengar kasar. Tapi perkataan ini dipakai oleh Yesus untuk mengingatkan bahwa perempuan itu bukan bagian dari orang Israel -bangsa pilihan Tuhan-, oleh karenanya tidak ada kewajiban yang mutlak bagi Tuhan untuk menolong perempuan itu.
Kalau Bapak/Ibu/Saudara ada di posisi perempuan tadi, apa yang Bapak/Ibu/Saudara rasakan? Apa yang kita rasakan ketika ada orang yang menolak permintaan kita? Tentu merasa malu untuk meminta lagi. Apalagi kalau ditolak dalam bahasa yang kasar! Wah, enggak lagi deh! Jangan sampai jatuh harga diri kita.
Tapi walaupun terkesan merendahkan, Yesus pada dasarnya ingin melihat bagaimana kesungguhan dan iman dari perempuan Siro-Fenisia ini kepada-Nya. Sebab terbukti bahwa pada akhirnya belas kasihNya Ia tunjukkan juga kepada perempuan itu dan kepada anaknya. Tapi perempuan ini perlu diuji dalam pemahamannya tentang kasih Allah. Dan jawaban yang diberikan oleh perempuan itu luar biasa. Jawabannya yang mengatakan : Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak menjadi pengakuan bahwa sekalipun ia bukan bangsa Israel, tapi ia mengakui bahwa ia pun milik Allah. Iman perempuan ini tidak sia-sia. Anaknya mendapat kesembuhan. Bahkan dalam Matius, perempuan ini mendapat pujian atas iman yang dimilikinya.
Teks kedua yang kita baca tadi berkisah tentang seorang yang bisu dan tuli yang dibawa kepada Yesus. Ketika Yesus meninggalkan daerah Tirus dan pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis, disitu orang membawa seorang yang tuli dan gagap kepada Yesus serta memohon agar Yesus meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Lalu Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya “Efata!” yang berarti “terbukalah”, maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu ia dapat berkata-kata dengan baik. Hal ini sungguh membuat orang-orang yang ada disitu takjub dan tercengang dengan yang Yesus lakukan. Orang tak mampu membendung ketakjuban mereka pada apa yang dilakukan Yesus. Kuasa Yesus begitu luar biasa! Orang-orang memujiNya dengan berkata : "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."
Dua kisah ini kembali menjadi pengingat yang luar biasa bagi kita saat ini. Bahwa dulu, Allah dalam diri Yesus Kristus menunjukkan kemahakuasaanNya dan kepeduliannya bagi orang banyak. Apakah ada yang bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh Yesus? Tidak ada! Seorang perempuan Siro Fenesia yang memilki dewa junjungannya pun justru datang kepada Yesus, karena ia tahu kekuatan dan kuasaNya dalam diri Yesus. Dua peristiwa luar biasa yang Yesus lakukan dalam nas ini, menunjukkan bahwa Yesus mampu mukjizat bagi orang-orang yang datang kepada-Nya. Kuasa Allah dalam diri Yesus Kristus memang nyata dan ada, bukan omong kosong yang diada-adakan! Asal setiap orang mau datang kepada Yesus, mau percaya dan mempercayakan kehidupannya pada Yesus, maka ia akan mendapatkan apa yang ia perlukan. Matius 21:22 ”Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya”.
Oleh karenanya penting sekali bagi kita untuk selalu ingat bahwa ada Tuhan yang menolong kita dalam kesulitan yang kita alami. Ada kuasa Tuhan yang akan menolong kita dalam mengatasi persoalan yang kita hadapi.
Banyak orang ketika kesulitan hidup menerpanya, ia menganggap bahwa Tuhan tidak peduli atau Tuhan tidak berkuasa. Banyak orang ketika kesulitan hidup menerpanya, ia memikul beban kesulitan itu dengan kekuatannya sendiri saja. Padahal Yesus katakan : mintalah maka akan diberi, carilah maka akan didapat, ketuklah pintu maka pintu akan dibuka bagimu. Tapi banyak orang enggan untuk mau datang kepada Tuhan Yesus, entah karena kemalasan, keraguan, ketidakpercayaan, dan lain sebagainya. Padahal dalam keyakinan dan kemauan untuk datang pada Yesus, mujizat akan dinyatakan.
Oleh karenanya, tidak baiklah kalau orang Kristen dalam keadaan susah merasa tidak ada jalan keluar. Tidak baik kalau orang Kristen merasa hidupnya tidak ada harapan lagi karena bebannya begitu banyak. Tidak baik orang Kristen putus asa seolah-olah tidak ada jalan keluar dan tidak ada yang peduli. Allah mau dan mampu menolong kita!
Pertanyaannya mau enggak cari Tuhan ketika keadaan sulit?
Mau enggak sungguh-sungguh temui Tuhan pada saat itu?
Maukah kita berlari kepada Tuhan pada saat kejatuhan kita?
Mau enggak kita siap diuji ketika kita menaruh harap kita pada Tuhan?
Komentar
Posting Komentar