Rancangan Khotbah Kisah Para Rasul 8:14-25
Kalau orang yang sudah mendengar firman Tuhan saja hatinya masih bisa terpaut pada kejahatan, apalagi mereka yang belum mendengarkannya. Jadi beritakanlah firman! Dengarkanlah firman!
Saya kurang tahu bagaimana respon
atau tanggapan Bapak/Ibu/Saudara ketika membaca teks ini. Barangkali ada
di antara kita yang punya banyak pertanyaan ketika membacanya. Apalagi kalau kita membaca teks-teks yang mengaitkan baptisan dengan Roh Kudus. Mungkin ada di antara kita yang bertanya mengapa orang Samaria di
cerita ini dibaptis tapi belum menerima Roh Kudus? Apa yang membuat orang
Samaria tidak mendapat Roh Kudus sebelum Petrus dan Yohanes berdoa? Apakah ada
formula atau mantra agar Roh Kudus bisa hadir dalam diri kita? Apakah saya sendiri sudah punya Roh Kudus atau belum? Dan
lain-lain.
Tentulah diperlukan kehati-hatian dalam membaca dan memahami kebenaran
firman Tuhan.
Teks firman Tuhan yang baru kita baca tadi merupakan sepenggal laporan dari perjalanan pekabaran Injil pada zaman dulu.Teks ini mau menunjukkan kepada
kita bagaimana berita tentang Yesus Kristus bisa menyebar luas. Seperti kita
tahu, bahwa berita tentang Yesus Kristus ini dulunya hanya terdengar di daerah Yerusalem saja.
Kalau kita membaca ayat sebelumnya, diceritakan bahwa ada seorang
yang bernama Filipus yang menyampaikan Injil di Samaria. Filipus ini tidak
termasuk dari 12 murid Yesus (meskipun ada juga murid Yesus yang bernama Filipus).
Filipus ini adalah seorang yang diangkat menjadi diaken. Tapi meskipun dia
bekerja sebagai diaken, keinginan untuk memberikan Injil hadir dalam diri
Filipus. Dalam Kisah Para Rasul 21:8, Filipus justru lebih dikenal sebagai
pemberita Injil ketimbang seorang diaken.
Ketika orang-orang Samaria sudah percaya pada Yesus, tertulis di ayat 14
bahwa rasul-rasul di Samaria mengutus Petrus dan Yohanes ke sana. Tidak
disebutkan memang apa alasan mengapa Petrus dan Yohanes perlu ke sana. Tapi
kehadiran dan bentuk pelayanan yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes di Samaria hendak menunjukkan
bahwa para rasul ini pun mau merangkul orang Samaria, -yang saat itu dipandang
sebagai masyarakat kelas dua dan musuh orang Yahudi-. Sekat-sekat yang dibuat oleh manusia
tidak membatasi para rasul untuk menyampaikan Injil, sebab Yesus sendiri telah
menetapkan mereka untuk menjadi saksi dari Yerusalem, Yudae, Samaria, hingga
ujung bumi.
Lalu ketika Petrus dan Yohanes sampai ke Samaria, Petrus dan Yohanes sendiri melihat bahwa orang-orang Samaria yang telah dibaptis ini belum mendapat Roh Kudus. Pada ayat 16 tertulis bahwa Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Barulah Roh Kudus turun setelah Petrus dan Yohanes berdoa dan menumpangkan tangan atas orang Samaria.
Laporan ini tentu saja tidak hendak mendiskreditkan kemampuan dan kemauan
Filipus yang telah memberitakan Injil kepada orang Samaria. Laporan ini juga
tidak hendak memberitahukan kepada kita bahwa ada praktek atau mantra khusus
yang digunakan agar kita punya kemampuan mencurahkan Roh Kudus. Laporan ini
justru memberi acuan kepada kita bahwa kuasa Roh bukanlah kuasa yang kaku yang
kita sendiri dapat mengatur-Nya. Roh Kudus adalah Roh Allah. Roh Kudus
diberikan kepada siapa Allah mau memberikanNya dan melalui siapa Allah mau
menggerakkanNya.
Dalam Kisah Para Rasul ada banyak pola yang digunakan oleh Allah dalam memberikan Roh-Nya. Ada orang yang dibaptis dan pada saat itu juga menerima Roh Kudus (Kis. 19:6); ada orang yang dibaptis dan Roh Kudus diberikan kemudian (sebagaimana teks bacaan saat ini); ada juga orang yang sudah mendapat Roh Kudus walaupun belum dibaptis (Kis. 10:47). Pola-pola ini menunjukkan betapa beragamnya cara Allah menyatakan kuasaNya.
Oleh karenanya, teks ini tidak boleh dipakai untuk merendahkan baptisan pelayan yang satu dengan baptisan pelayan yang lain seolah-olah ada baptisan yang lebih kudus dari baptisan yang lain. Dalam Efesus 4:5 jelas disebutkan bahwa hanya ada satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan. Apa yang dilakukan oleh Filipus, Petrus, dan Yohanes justru menjadi salah satu pola pelayanan yang harus kita tiru sebagai jemaat Kristen saat ini. Para rasul dan diaken ini menunjukkan kepada kita bagaimana orang-orang percaya saling memperlengkapi pekerjaan yang dilakukan oleh saudara-saudari yang lain.
Hal menarik lainnya ada di ayat 18-24. Walau sudah menerima Roh Kudus, tapi masih ada orang yang bernama Simon yang pikirannya masih berpusat pada dunia ini. Ayat sebelumnya menyebutkan bahwa Simon ini adalah mantan tukang sihir. Ketika Filipus datang dan memberitakan tentang Yesus, dia percaya dan terus menerus bersama dengan Filipus. Tapi sekalipun dia telah dibaptis dan terus bersama-sama dengan Filipus, pikirannya masih berpusat pada hal-hal dunia. Pada ayat 19 ia berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus. Pikirannya picik. Ia masih menautkan hatinya pada kepentingan-kepentingan dunia ini. Ia mengira bahwa dengan uangnya ia dapat membeli kuasa Roh Kudus. Ia mengira dengan uangnya ia dapat membeli kuasa Allah.
Tapi beruntunglah Petrus menegurnya dengan sangat keras. Petrus tidak tergiur dengan tawaran Simon. Petrus tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Petrus justru dengan keras menegur Simon. Petrus pun menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah milik Allah dan Ia bekerja untuk kemuliaan Allah. Orang tidak boleh sewenang-wenang mempergunakan kuasaNya untuk kepentingan pribadinya. Hati Simon yang tidak lurus harus ditobatkan. Jika tidak, ia akan terjerat dalam kejahatan. Dan syukurlah, dalam teks ini kita menemukan bahwa Simon secara tidak langsung menghargai teguran Petrus. Ia tidak keras kepala dan tegar tengkuk. Malah dengan rendah hati, ia meminta para rasul berdoa untuknya.
Saya kira sepenggal kisah atau laporan pekerjaan para murid Yesus ini
sudah cukup mewakili betapa beragamnya dinamika pelayanan yang dilalui oleh murid pada saat itu. Pola kerja mereka beragam. Respon terhadap pekerjaan mereka juga beragam. Ada kalanya jalan mereka mulus, ada kalanya mereka menghadapi tantangan. Tapi dalam teks ini kita belajar bagaimana ketulusan
dan kegigihan para murid untuk menolong orang bertumbuh dalam kebenaran.
Kerinduan mereka agar orang mengenal Injil dan kebenaran begitu sangat kuat.
Lalu apa implikasi teks ini bagi kita saat ini?
1. Kita diajak untuk sama seperti murid-murid pada zaman dulu yang mau gigih dan pantang menyerah untuk menyampaikan kebenaran. Mengapa memberitakan Firman Tuhan menjadi sangat penting? Dalam Roma 10:17 tertulis bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan firman Kristus. Orang-orang dapat memahami kebenaran dan hidup sesuai dengan kebenaran kalau sudah mendengarkan kebenaran. Kalau mereka tidak mendengar tentang Yesus, bagaimana mereka bisa percaya? Kalau mereka tidak mendengar tentang kebenaran, bagaimana mereka bisa meninggalkan kehidupan lama mereka? Apa jadinya kalau Filipus tidak memulai pekabaran Injil di Samaria? Apa jadinya kalau Petrus membiarkan Simon dengan pikiran piciknya? Kekacauan pasti akan terjadi. Bahkan mungkin, pekabaran Injil tidak akan sampai kepada kita saat ini.
Inilah alasan pentingnya memberitakan firman Tuhan : Agar orang mendengar, tahu, dan percaya. Kalau tidak ada misionaris yang memberitakan firman Tuhan ke Nias, orang Nias akan tetap sembah adu. Kalau tidak ada misionaris yang memberitakan firman Tuhan ke Mentawai, orang Mentawai akan tetap hidup dalam kepercayaan arat sabulungan. Kalau tidak ada misionari yang memberitakan firman Tuhan ke tanah Batak, orang Batak akan tetap hidup dalam kepercayaan parmalim. Tapi syukur banyak orang yang mau tergerak hatinya untuk menyampaikan kebenaran sehingga kita pun tahu dan percaya. Maka sudah sepatutnya kita pun memberitakan Firman.
2. Karena tugas memberitakan Injil (firman Tuhan) adalah tugas semua orang percaya maka amat perlu bagi Bapak/Ibu/Saudara untuk memperlengkapi diri dengan terus belajar firman Tuhan. Petrus dan kawan-kawan memang bukan Sarjana Teologi, tapi mereka belajar selama tiga tahun lebih bersama-sama dengan Yesus. Oleh karenanya penting bagi Bapak/Ibu/Saudara untuk terus belajar memahami firman Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mengajar anak, saudara, teman, dan keluarga kita kalau kita sendiri tidak tahu apa yang kita ajar? Bapak/Ibu/Saudara adalah pengajar, oleh karenanya belajarlah!
3. Pemberian karunia roh adalah kehendak Tuhan bukan kehendak manusia oleh karenanya kita tidak boleh menilai diri kita secara berlebihan. Sebelum Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan kepada orang Samaria, mereka pun terlebih dahulu berdoa kepada Tuhan sebagai tanda bahwa mereka pun tidak punya otoritas dalam memberikan Roh Kudus. Jadi jangan anggap bahwa diri kita ini adalah satu-satunya dalam pekerjaan Tuhan. Jangan sampai kita mencuri kemuliaan Tuhan. Jangan sampai kita menganggap bahwa kita bisa mengatur Tuhan dengan kekayaan, talenta, dan kemampuan yang telah kita miliki! Ingat, apa yang kita miliki itu pun adalah pemberian Tuhan. Jadi murnikan motivasimu!
4. Tantangan dalam kehidupan orang percaya akan senantiasa ada. Kisah Simon tadi menunjukkan bahwa orang-orang yang sudah dibaptis pun kadang belum selesai dengan dirinya. Oleh karenanya kita perlu waspada terhadap diri kita juga sesama kita. Kalau ada yang salah, kita tegur. Dan kalau kita ditegur juga jangan mengamuk. Kehadiran-kehadiran orang-orang percaya di sekeliling kita dipakai Tuhan untuk semakin memperlengkapi kita. Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh para rasul dan diaken. Mereka menunjukkan kepada kita bagaimana orang-orang percaya saling memperlengkapi pekerjaan yang dilakukan oleh saudara-saudari yang lain. Hal yang sangat kontras justru terjadi di gereja saat ini, dimana banyak orang-orang percaya saling sikut-menyikut. Gereja menjadi ajang perebutan kekuasaan, kekayaan, dan popularitas. Ada yang mati-matian mencari pamor dengan menjatuhkan sesamanya pelayan, dan lain sebagainya. Oleh karenanya belajar dari Filipus, Petrus dan Yohanes, kesatuan hati para pelayan amat sangat diperlukan. Sebab pekerjaan yang kita kerjakan bukan untuk nama baik kita semata, melainkan untuk kemuliaan Tuhan.
Saya kira ada banyak hal yang diingatkan oleh Firman Tuhan pada saat ini. Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan kita bahwa akan ada banyak hal yang kita temui dalam pelayanan pemberitaan firman. Tapi di atas semuanya itu kita juga belajar untuk tidak takut dalam bersaksi, sebab kuasa Tuhan sendiri yang akan menyertai kita. Kiranya menolong kita untuk lebih semakin giat lagi mendalami dan memberitakan kebenaran firman Tuhan.
Terimakasih Kak Pend🥰
BalasHapusTerima kasih kembali, Tuhan memberkati.
Hapus