Rancangan Khotbah Mazmur 71:1-6
Seruan-seruan Daud kepada Tuhan tadi justru menjadi satu pengingat penting dalam diri kita : manusia pun terbatas dalam menghadapi tantangan di dunia ini.
Bapak/Ibu/Saudara, tak dapat dipungkiri bahwa
masing-masing kita pasti mengalami tantangan dalam kehidupan ini. Walaupun
teman kita tidak menceritakan kepada kita, tapi tanpa kita sadari sebenarnya
ada beban berat juga yang mesti mereka hadapi. Tanpa kita tahu, pasti ada saja
hal-hal sulit yang harus mereka atasi. Barangkali ada yang bergumul masalah keluarga, ekonomi, pekerjaan, persahabatan, bisnis, kesehatan, dan lain sebagainya. Tidak jarang, hal-hal tersebut dapat
menguras tenaga dan energi mereka.
Lalu bagaimana sikap Bapak/Ibu/Saudara ketika
menghadapi tantangan dan situasi sulit dalam kehidupan Bapak/Ibu/Saudara?
Beberapa orang ada yang suka mencari jalan pintas
ketika hidupnya sedang sulit : ada yang mencuri, ada yang membunuh, ada yang
memukul.
Beberapa orang ada juga yang suka mencari pelarian
ketika hidupnya sedang sulit : ada yang pergi mabuk-mabukan, keluyuran, tidak
makan dan minum
Ada juga orang yang tidak mau tahu dan sebaliknya ada
juga orang yang tenggelam dalam keadaan depresi.
Lalu bagaimana seharusnya orang percaya bersikap
ketika ada tantangan-tantangan yang mereka hadapi dalam hidup mereka?
Dalam teks ini kita akan belajar dari Daud bagaimana
Daud mengatasi persoalan yang ia hadapi dalam hidupnya.
Kalau melihat kehidupan Daud, tampaknya tidak ada yang
kurang dari dirinya. Kekayaan? Dia punya. Jabatan? Dia punya. Anak istri? Dia
punya.Tapi ternyata semuanya itu tidak menjamin bahwa kehidupannya akan mulus-mulus
saja; Seorang raja besar seperti Daud sendiri pun menghadapi masalah besar dalam dirinya.
Dalam perikop ini, Daud menyampaikan seruannya kepada
Tuhan atas ancaman yang hadir dalam dirinya. Daud mengalami keadaan dimana ada
orang-orang yang sengaja mencelakakan kehidupannya. Orang-orang ini berniat
mengambil nyawanya (ay.10-11). Keadaan semakin buruk, ketika Daud sendiri mulai
kehilangan kekuatannya. Saat itu ia sudah berada di usia yang rentan (ay. 9).
Tentu sulit baginya untuk melawan dan membela dirinya. Bahkan bukan tidak
mungkin pula sulit bagi Daud untuk mengetahui siapa lawan dan siapa kawan bagi
dirinya (Mzm. 41:10).
Tapi dalam situasi yang cukup genting ini, Daud
tidak kehilangan asa. Ia tahu bahwa dirinya rentan. Ia tahu bahwa kehidupannya
ada di ujung tanduk. Tapi ia juga tahu bahwa Allah adalah tempat
perlindungannya. Kalau kita membaca dari 1-7, Daud menggunakan banyak sekali
istilah untuk menyebut bagaimana Allah berperan penting dalam perjalanan
hidupnya kehidupannya. Gambaran peranan Allah dalam hidupnya tampak pada
teks-teks yang kita baca tadi.
Pada ayat 1, Daud menyebut Tuhan sebagai tempat
perlindungan. Bagi bangsa Israel sendiri, istilah tempat perlindungan merupakan
tempat-tempat/kota yang dikhususkan oleh Tuhan
kepada orang-orang yang tidak sengaja membunuh sesamanya (Bil. 35:15). Kota-kota
perlindungan ini biasanya mudah dijangkau dan berada dalam jarak yang seimbang
dari seluruh wilayah pemukiman bangsa Israel. Tujuannya adalah agar setiap
orang yang ingin berlindung ke kota perlindungan mendapat akses yang cepat
(tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada). Hal ini dimaksudkan agar jangan
sampai mereka bisa dibunuh terlebih dahulu oleh penuntut tebusan darah sebelum
mereka tiba di kota perlindungan.[1] Gambaran
Allah sebagai tempat perlindungan ini hendak menunjukkan pengakuan Daud bahwa
Allahlah yang paling tepat didatangi dalam situasi genting yang kita hadapi. Ia
tidak melarikan diri kemana-mana. Tapi pertama-tama, ia berseru kepada Tuhan.
Lalu pada ayat 3, Daud juga menggambarkan Allah
sebagai gunung batu, kubu pertahanan, dan bukit batu. Istilah ini diambil dari
konteks geografis orang Israel pada saat berperang. Gunung batu/bukit batu
sendiri sering dimanfaatkan oleh orang Israel sebagai tempat pertahanan mereka.
Kerasnya panah dari musuh tidak akan mampu menembus kerasnya gunung batu. Dari
gunung batu itulah, orang-orang Israel, termasuk Daud dapat mengamat-amati
musuh dan melancarkan taktiknya menyerang musuh. Dari gunung batu itulah, Daud
dapat memutuskan tindakan apa saja yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan
dirinya. Daud hendak menyampaikan bahwa dalam Tuhan ada keselamatan dan hikmat.
Sekalipun ada berbagai ancaman yang menyerang, tapi tidak ada kuasa yang tidak
dapat dipatahkan oleh Tuhan (Rm. 8:31).
Pengakuan akan kebesaran dan kekuasaan Allah
inilah yang dipegang oleh Daud. Pengakuan ini tentu tidak dikatakan secara
asal-asalan. Daud berani mengaku karena ia sendiri telah merasakan bukti kasih
Allah itu. Ayat 5-6 menjadi tanda bagaimana Daud teringat akan hal-hal ajaib
yang telah dilakukan oleh Tuhan dalam hidupnya. Oleh karena itulah, Daud dalam
segala pergumulan yang dihadapinya tetap berharap kepada Tuhan. Ia tahu bahwa
Tuhan sanggup menolongnya. Ia tahu bahwa Tuhan sanggup menyelamatkan
kehidupannya yang genting. Seberat-beratnya tantangan dan ancaman dalam
hidupnya, ia akan tetap aman dalam pertolongan Tuhan.
Saya kira firman ini penting sebagai pengingat
kita dalam perjalanan kehidupan kita yang tidak selalu mulus ini. Bapak/Ibu/Saudara
tentu sudah merasakan bagaimana asam manis perjalanan di dunia ini. Kadang ada
saja muncul hal-hal yang dapat mengganggu pikiran kita. Ada saja hal-hal yang
dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan kita. Ada saja yang menjatuhkan dan
mengkhianati kita. Ada saja hal-hal yang dapat melemahkan iman dan semangat kita
: sampai kita merasa bingung, panik, kecewa, dan marah. Dan semestinya memang
begitu. Selama kita berada di dunia ini, kehidupan kita akan senantiasa diuji
(2 Kor. 5:4a).
Tapi firman Tuhan hari ini mengingatkan kita
akan kuasa Tuhan yang tidak terbatas. Dalam kehidupan yang penuh tantangan dan
ancaman, dalam kehidupan yang penuh dengan cobaan dan ujian, Tuhan juga sanggup
menghadirkan kelepasan dan kelegaan. Hanya Tuhan yang mampu memberikan kita kekuatan
: tidak ada tempat lain yang dapat memberikan kelegaan sejati selain dari Tuhan
itu sendiri. Seruan-seruan Daud kepada Tuhan tadi justru menjadi satu pengingat
penting dalam diri kita : bahwa kita pun terbatas dalam menghadapi tantangan di
dunia ini. Harta, jabatan, keluarga, dan kekuatan militer Daud tidak menjadi
jaminan bahwa ia tidak akan mengalami tantangan. Ada saat ia akan berseru
kepada Tuhan, ada saat ia memohon kepada Tuhan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
harta dan kekuatan di dunia pun tak dapat menjamin kehidupan dan kedamaian diri
kita.
Oleh karenanya, seperti Daud kita pun hendaknya tidak berpaling dari Tuhan ketika sedang menghadapi persoalan dalam hidup ini. Kesulitan hidup harusnya membuat kita semakin dekat dengan Tuhan. Yesus dalam Matius 11:28 justru memanggil kita dengan lembut : Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Dalam hiruk pikuk dunia yang sering membebani kita, ada kuasa Allah yang menolong kita. Dalam tekanan-tekanan dunia, ada kuasa Allah yang membebaskan kita. Dalam keterbasan-keterbatasan kita, ada kuasa Allah yang tidak terbatas. Amin.
Terimakasih firman Tuhan sangat memberkati
BalasHapusTerima kasih kembali.
HapusTerimakasih kakak ipend🙏🏻 Tuhan Yesus memberkati 😇
BalasHapusSama-sama. Tuhan memberkati jugaa
Hapus